Mulai Lebih Baik

Tinggal di Depok dan bekerja di Jakarta mau tidak mau menjadikan saya seorang komuter. Pagi sampai sore saya bekerja di Jakarta dan malam sampai pagi hari tinggal di Depok. Saya bersama sekitar 1,4 juta orang lainnya dari bodetabek (data BPS 2014) turut meramaikan jalanan, gedung-gedung perkantoran, mal dan tempat-tempat lainnya di Jakarta.

Dulu, waktu tinggal di Depok dari 2009 sampai 2016, KRL menjadi favorit saya untuk berulang-alik karena kantor dekat dengan stasiun Gondangdia, tinggal jalan kaki sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Kalau kepepet dan takut telat, saya bisa naik ojek dan babi (bajaj biru) dan sampai kantor hanya dalam lima menit saja.

Selama sekitar tujuh tahun itu saya melewati beberapa kali perubahan sistem kereta listrik Jabodetabek. Masa-masa awal saya tinggal di Depok, saya masih merasakan naik Pakuan Expres dan Depok Ekspres. Kedua KRL ini memang tiketnya lumayan mahal (hampir enam kali lipat tiket KRL ekonomi), tapi kelebihan kereta ekspress adalah hanya berhenti di beberapa stasiun saja sehingga saya bisa sampai lebih cepat ke kantor. Kereta ekspres ini kalau sudah jalan malas berhenti, sehingga di stasiun-stasiun tertentu yang punya 4 jalur rel akan menyalip kereta-kereta ekonomi.

Sebagian besar penumpang KRL waktu itu adalah penumpang kereta ekonomi yang jumlahnya lebih banyak dari kereta ekspres. Walaupun berhenti di setiap stasiun dan selalu disalip, harga tiket kereta ekonomi sangat murah, bahkan bisa gratis. Lingkungan stasiun yang tidak steril menyebabkan banyak sekali penumpang gelap. Jangankan penumpang, pedagang saja bisa bebas berjualan di peron-peron kereta, bahkan di dalam kereta. Tiketnya diperiksa manual oleh seorang kondektur, sehingga kita bisa kucing-kucingan dengan kondektur. Kalau kondektur sudah dekat, tinggal pindah ke gerbong sebelumnya yang sudah dilewati kondektur ketika kereta berhenti. Atau, kalo mau nekat bisa naik di atap kereta, pasti gratis karena kondektur tidak sampai memeriksa atap kereta.

Di kereta ekonomi, semua orang mencari peluang, termasuk pengamen, pedagang asongan dan copet. Bahkan kadang-kadang ada grup dangdut full band dengan sound system dan penyanyi dengan dandanan menor yang menyanyikan lagu-lagu Bang Haji Oma. Soal asongan jangan ditanya, sudah mirip supermarket, mau beli apa aja ada. Copet sudah barang tentu berseliweran seperti kecebong. Tingkah penumpang juga macam-macam, ada yang suka pangku-pangkuan, ada yang arisan, ada juga yang suka berbicara jorok dengan suara yang sengaja dikencangkan agar didengar oleh penumpang seluruh gerbong.

Comments

Popular posts from this blog

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Karya Besar Vincent van Gogh

Where The Wild Roses Grow : Covering Both Stories of The Murderer and The Victim