Sado

Masih cerita tentang Manami-san, maksud saya tentang Sado. Sebelum memulai upacara minum teh, Manami-san bertanya kepada semua yang hadir di ruangan: "Kalau mendengar Jepang, apa yang pertama kali terlintas di benak mina-san (hadirin semua)?" Kami menjawab satu-satu, ada yang menjawab anime, ada yang menjawab sakura, ada yang menjawab manga, ada yang menjawab origami dan banyak lainnya. Saya sendiri menjawab Shinkansen dan Fuji. Manami-san lalu mengetikkan sesuatu di laptopnya dan menunjukkan gambar Shinkansen lewat dengan latar belakang gunung Fuji dan bilang kalau gambar Shinkansen dengan latar belakang Fuji memang ikonik dan sering jadi gambar di kartu pos. Namun menurutmya bukan itu semua yang sebenarnya yang merangkum Jepang dalam satu kata. Menurutnya, Sado-lah yang bisa dibilang dapat mewaki Jepang dalam satu kata. Katanya, Sado merangkum hampir seluruh aspek budaya Jepang. Lalu Manami-san menjelaskan lebih detil dengan mimik muka dan gerak tangan yang sangat antusias. Saya pun tidak kalah menunjukkan mimik muka yang serius dan penuh perhatian.

Manami-san lalu menjelaskan alat-alat apa saja yang diperlukan dalam upacara minum teh. Manami-san bilang kalau alat-alat upacara minum teh sebenarnya sangat banyak. Namun, ia hanya membawa beberapa saja berupa wadah teh, ochawan (cawan), dan chasen (pengocok teh). Katanya, cawan tempat minum teh yang terbuat dari keramik itu bisa jadi berharga sangat mahal. Lalu ia berdiri untuk menuliskan harga paling mahal untuk sebuah cawan bisa mencapai seratus juta yen atau sekitar empat belas milyar rupiah. Cawan-cawan mahal biasanya digunakan untuk upacara minum teh para bangsawan. Manami-san lalu menjelaskan siapa yang mendapat kehormatan minum teh pertamakali. Biasanya, kesempatan itu diberikan kepada orang yang duduk paling jauh dari pintu. Sebelumnya, kami semua yang ada di ruangan diberi selembar kertas yang tadinya kami kira tisu, ternyata kertas itu digunakan untuk wadah camilan agar-agar yang sudah dikeringkan. Manami san lalu mempersilahkan kami makan kudapan agar-agar kering di depan kami. Kami mengira bisa langsung makan bersamaan, ternyata harus makan bergilir. Satu-satu. Orang yang akan makan mengucapkan terimakasih dan minta ijin orang disebelahnya untuk makan duluan. Kami diajari untuk mengucapkannya dalam bahasa Jepang, tinggal baca, karena Manami-san menulisnya di papan tulis.

Setelah semua makan kudapan, Manami-san membuat satu per satu teh untuk semua orang di ruangan. Ia menaruh sedikit bubuk teh di dalam cawan, menuangkan air panas dari termos (mestinya dituangkan dari panci yang dimasak diatas tungku), mengocok teh dengan chasen sampai sedikit berbusa dan mengantarkannya kepada peminum teh. Orang yang diberi teh lalu mengucapkan kalimat yang sebelumnya sudah ditulis Manami-san di papan, sepertinya ucapan terimakasih dan kemudian mengucapkan dua kata kepada orang disebelahnya yang kira-kira artinya "maaf saya minum duluan." Cara minum teh adalah dengan meletakkan cawan di atas telapak tangan kiri, memutarnya dua kali searah jarum jam dan mengangkatnya sejajar dengan dahi sebelum meminumnya. Ucapan terimakasih dan permisi kepada tamu disebelahnya itu berulang sampai semua tamu selesai minum teh.

Sebelumnya saya mengenal sado dari Taiko, salah satu karya besar Eiji Yoshikawa. Di bab-bab awal, banyak diceritakan tentang Sado. Sado bisa menjadi ukuran penghormatan tuan rumah kepada tamunya. Tentang peralatan sado yang mahal, buku ini menceritakan tentang keributan dan pertumpahan darah yang disebabkan pencurian kendi akae (salah satu peralatan minum teh) seharga seribu keping emas dan nyaris menimbulkan peperangan antar marga. Kalau saya sih minum teh nggak perlu repot-repot upacara, apalagi minumnya cuma teh botol.

2018

Comments

Popular posts from this blog

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Karya Besar Vincent van Gogh

Where The Wild Roses Grow : Covering Both Stories of The Murderer and The Victim