Lima Belas Menit

Waktu menunjukkan pukul 17.50 ketika aku menempelkan jari di atas mesin presensi. Sebentar lagi magrib. Dari dalam gedung pandanganku tertuju ke masjid yang terletak persis di sebelah gedung. Aku sempat berfkir untuk menunda pulang sampai setelah magrib dan melanjutkan setelah selesai salat. Tapi apa daya kakiku tak menggubris dan terus melangkah meninggalkan gedung.

Aku terus menyusuri jalan di sebelah BKPM menuju Gatot Subroto untuk menaiki jembatan penyebrangan. Aku memang bermaksud menggunakan bus Transjakarta untuk menuju stasiun Cawang. Ketika hendak naik jembatan penyebrangan, azan magrib berkumandang. Hatiku terusik.

Terus melangkah menaiki tangga jembatan penyebrangan, aku melewati beberapa pedagang masih menggelar dagangannya begitu saja di lantai jembatan. Beberapa langkah lagi menuju tangga turun halte Transjakarta, suara azan terus memanggilku. Begitu kuat mengusik sanubariku. Entah mengapa aku menghentikan langkahku dan berbalik. Tuhan sungguh sedang mengasihiku. Aku putuskan untuk salat terlebih dulu sebelum pulang. Kuturuni lagi tangga JPO, bergegas menuju suara azan yang berasal dari masjid BKPM.

Masjid BKPM hanya berjarak seratus meteran dari JPO. Masjid tidak terlalu ramai karena memang jam kerja sudah berakhir. Aku mengambil air wudu. Aku membasuh mukaku, berharap untuk dapat menyucikan penglihatanku dari memandang yang tak seharusnya. Aku basuh tanganku, menyucikan dari segala dosa yang tanganku perbuat. Aku basuh kakiku seraya memohon ampunan atas segala langkah kaki menuju perbuatan dosa. Aku berharap ketika air wudhu membasuh anggota badanku, Allah sucikan juga jiwaku. Jika salat adalah miniatur pertemuan manusia dengan Tuhannya, maka wudhu adalah miniatur penyucian jiwa manusia sebelum bertemu dengan Tuhannya di akhirat nanti.

Salat adalah untuk mengingat. Mengingat siapa diriku dan siapa Tuhanku. Karena aku adalah manusia yang seringkali lupa siapa diriku. Salat adalah untuk mengingat Tuhanku. Aku berharap Dia mengingatku dengan ampunan dan rahmat-Nya.

Aku lantunkan takbir mengawali salatku. Allahu akbar. Allah maha besar. Hal yang sering manusia ingkari. Apa yang lebih besar dari Tuhan? Pekerjaan? Atasan? Masalah-masalah? Kebutuhanmu? Nafsumu? Keserakahan? Tidak ada yang lebih besar dari Dia. Maka apakah yang bisa mencegahku menyebut nama-Nya. Namun, kebanyakan waktu aku lupa dan menjadikan Tuhan lebih kecil dari lainnya. Allah maha besar dan kusadari semua menjadi kecil dihadapan-Nya.

Sami'allahu liman hamidah. Allah mendengar hamba yang memujinya. Dia maha mendengar. Dia mendengar keluh kesahku. Dia mendengar pintaku. Dia menjawab panggilan lirih hambanya. Dia berkata, "Panggilah Aku dengan doa-doamu, niscaya aku akan menjawabnya."

Dalam sujudku aku meninggikan nama-Nya, meletakkan diriku serendah-rendahnya. Siapakah yang mungkin lebih tinggi dari Dia?

Salam kuucapkan mengakhiri salatku. Kusebarkan keselamatan dan kesejahteraan mulai dari orang-orang di sebelahku, di kiri dan kananku. Aku telah berdamai dengan diriku, maka aku sebarkan kedamaian kepada semua. Kulirik jam di dinding masjid, masih menunjukkan pukul 18.15. Salat berjamaah kukerjakan tidak lebih dari lima belas menit. Lima belas menit yang tidak semua manusia bisa meluangkannya.

2019

Comments

Popular posts from this blog

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Karya Besar Vincent van Gogh