Cawang

Hari masih sore. Jam pulang kantor. Orang-orang memenuhi trotoar menuju stasiun Cawang. Tukang sate kulit, tukang siomay, tukang batagor masih sibuk melayani pelanggan. Seorang ibu muda berlomba dengan pengumuman kedatangan kereta menghabiskan sisa siomay di piringnya.

Tukang cilok, tukang bakpau tidak kalah sibuk. Pengemudi ojol berbaris duduk memenuhi pinggiran trotoar, mereka sibuk melihat layar henfon, berharap ada order yang nyangkut. Seorang wanita muda dengan santai menuruni tangga menuju pintu masuk stasiun. Beberapa orang lagi yang tidak sabar mendahului lewat bagian setengah tangga lain, jatah orang-orang naik. Saya dengan sabar berjalan dibelakangnya. Toh di jam-jam sibuk ini kereta pasti banyak yang lewat dan sudah pasti semua penuh.

Saya memasuki stasiun dengan menempelkan kartu uang elektronik pada e-gate. Persis beberapa meter tepat di depan gerbang-gerbang masuk elektronik saya selalu mendapat sambutan teriakan dari penunggu toko Roti Maryam. Saya tidak mengindahkan dan langsung menuju peron yang sudah dipenuhi orang-orang. Tua, muda, anak sekolah, bapak-bapak, tante-tante, om-om, nona-nona, mas-mas, mbak-mbak semuanya memenuhi peron ke arah stasiun Bogor. Beberapa bergerombol di tepi peron, sebagian lagi memenuhi kursi panjang sederhana yang terbuat dari pipa-pipa besi. Saya terus berjalan ke arah ujung peron. Biasanya di sana agak sepi.

Belum juga sampai di ujung peron terdengar suara pengumuman bahwa kereta dengan tujuan akhir stasiun Bogor akan segera datang. Saya berhenti dan menunggu kereta bersama orang-orang lain di belakang garis kuning, garis aman untuk menunggu. Beberapa saat kemudia kereta datang diiringi pengumuman tujuan dan jumlah keretanya. Jumlah kereta biasanya delapan, sepuluh dan dua belas. Delapan Kereta artinya bakal lebih padat dari pada dua belas kereta. Bagaimanapun kondisinya, saya usahakan untuk masuk. Hati terasa tenang kalau sudah berada di dalam gerbong. Beberapa menit lagi saya akan sampai di stasiun tujuan dan bisa melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.

Bicara soal stasiun, stasiun kereta sekarang memang lebih enak, lebih bersih dan lebih lega, tapi saya berani menjamin kalau tidak ada yang betah berlama-lama di stasiun. Karena stasiun tetap stasiun, hanya tempat singgah saja. Adakah tempat transit yang membuat betah pengunjungnya? Ada. Dunia ini. Dunia yang kita tinggali ini. Manusia sangat betah tinggal di dunia yang katanya hanyalah tempat transit. Kalau bisa, semua ingin tinggal di dunia selamanya. Kenyataannya, kita tidak akan tinggal di dunia ini lebih lama dari seratus tahun. Apa lagi sekarang, banyak yang lebih cepat tua karena Faceapp. Kita semua tahu kalau kita semua memegang tiket misterius tanpa tanggal dan tanpa jam keberangkatan. Tiket itu diberi nama Kematian. Mau tidak mau, suka tidak suka, waktu keberangkatan kita akan tiba. Kita akan dijemput oleh Izrail untuk menuju alam akhirat, alam kekal tujuan akhir kita. Tapi ya itu, kadang kita lupa kalau kita di dunia ini hanya transit saja.

2019

Comments

Popular posts from this blog

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Karya Besar Vincent van Gogh

Where The Wild Roses Grow : Covering Both Stories of The Murderer and The Victim