"Next stop, alam kubur,"

Remember me, though I have to say goodbye / Remember me, don't let it make you cry / For even if I'm far away, I hold you in my heart / I sing a secret song to you, each night we are apart / ...
Jika Tuan dan Puan sudah menonton film yang sedang diputar di jaringan bioskop terbesar di Indonesia yang berjudul Coco tentu masih ingat dengan penggalan lirik lagu di atas yang banyak dinyanyikan di sepanjang film. Jika belum, silalah menonton karena saya tidak hendak bercerita tentang jalan cerita film itu. Saya tertarik dengan "Dia de los Muertos" - Harinya Orang Mati, sebuah tradisi Mexico untuk memperingati atau mengenang anggota keluarga yang sudah tiada yang melatari film itu.
Pada hari itu anggota keluarga yang sudah meninggal diyakini datang ke rumah-rumah keluarga mereka yang masih hidup. Untuk menyambut kunjungan keluarga yang sudah meninggal dibuatlah semacam altar yang untuk memasang foto, lilin, makanan, minuman dan mungkin sebuah benda kesukaan mereka. Altar yang disebut ofrenda itu tidak tidak untuk disembah, melainkan untuk menyambut kedatangan mereka.
Diceritakan dalam film bahwa pentingnya mengingat keluarga yang sudah mati adalah agar arwah mereka tetap hidup. Selama roh seseorang masih diingat salah seorang anggota keluarganya, dia akan tetap hidup dan tentu saja masih bisa mengunjungi keluarga mereka yang masih hidup. Di malam Dia de los Muertos itu arwah-arwah menyebrang dari negeri orang mati menuju negeri orang hidup melalui sebuah jembatan. Sebagai syarat tambahan untuk mengunjungi sanak keluarga yang masih hidup, foto-foto mereka harus dipasang di ofrenda. Jika tidak, mereka tidak akan diijinkan menyebrang. Mereka melewati semacam loket imigrasi yang akan mengecek apakah foto-foto mereka masih dipajang.
Dulu sekali, di Cirebon masih dikenal sebuah tradisi. Tradisi ujub-ujub. Saya masih mengingat walau samar-samar. Setiap malam jumat, di rumah kakek buyut, meja makan selalu penuh dengan makanan. Nasi beserta lauk pauk lengkap, minuman kopi dan teh dan tidak ketinggalan rokok. Selepas magrib kami kami akan berkumpul mengelilingi meja tersebut. Kakek buyut akan merapalkan doa-doa dan kami mengaminkan saja. Yang saya tidak ingat adalah apakah kami memakan hidangan di atas meja atau tidak. Tapi yang pasti saya pernah mendengar cerita bahwa makanan dan minuman di meja itu ditujukan untuk kerabat kami yang sudah meninggal. Mereka datang, makan dan minum.
Tradisi mengenang kerabat yang sudah meninggal dengan membuat semacam altar dengan memasang foto dan sajian makanan dan minuman juga pernah saya lihat di film-film Jepang dan Hongkong. Saya tidak mengerti benar maksud dan tujuan masing-masing tradisi itu, namun setidaknya ada dua hal yang menyamai. Pertama adalah keyakinan bahwa arwah orang yang sudah mati tetap hidup, hanya saja berada dialam yang berbeda. Dalam film Coco digambarkan bahwa arwah tinggal di dunia orang mati, the land of the dead. Dunia yang sama dengan dunia orang hidup, namun berisi arwah orang yang sudah mati. Yang kedua adalah bahwa kita masih dapat berhubungan dengan roh-roh tersebut. Caranya berbeda-beda. Dalam film Coco, keluarga yang ditinggalkan membuat ofrenda untuk menyambut kunjungan kerabat yang sudah meninggal dan yang paling penting adalah bahwa sang roh harus punya seseorang yang masih mengenangnya untuk bisa terus hidup di alam orang mati.
Sepemahaman saya, dalam ajaran Islam, dua hal pokok tadi juga diyakini. Islam mengajarkan bahwa kematian bukan akhir dari kehidupan, malahan merupakan transisi manusia dalam menempuh perjalanan menuju alam-alam lainnya. "Next stop, alam kubur," peringatan itu tentu selalu diulang-ulang. Kematian hanya sebuah pengumuman bahwa seorang manusia akan berjalan menuju perhentian berikutnya. Kualitas perjalanan-perjalanan itu ditentukan oleh kehidupannya di dunia. Yang kedua, kematian tidak serta merta memutuskan hubungan roh dengan keluarga yang ditinggalkan. Keluarga yang masih hidup bisa berdoa memohonkan ampunan bagi yang mati. Anak mendoakan bapak ibunya, murid yang berbakti mendoakan guru-guru mereka. Bukan hanya melalui kerabatnya, seorang yang sudah mati masih bisa berhubungan dengan benda-benda mati yang ditinggalkannya. Harta benda tersebut masih bisa mentransfer buah perbuatan. Sumur Rumah yang diwakafkan Khalifah Utsman RA hingga kini tentu masih terus mengisi pundi-pundi amalnya. Dan bukan hanya benda mati, bahkan benda abstrak yang bernama ilmu pengetahuan bisa terus memberikan bekal perjalanan bagi roh manusia melalui manfaatnya. Saya yakin alim ulama seperti Imam Muslim, Imam Bukhari, Al Ghazali, Imam Nawawi, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Jalalain, Ibnu Katsir, Imam Syafii tidak pernah merasa kehausan di alam kubur karena selalu dilimpahi kucuran pahala.
Mumpung masih ada waktu, mari kita sama-sama berjuang, sama-sama berkarya agar bisa meninggalkan warisan yang bisa bekerja untuk kita, beramal untuk kita setelah kematian. Jika harta yang Tuan dan Puan punya, buatlah mereka bekerja untuk Tuan dan Puan bahkan setelah Tuan dan Puan meninggalkannya. Jikalau Tuan dan Puan punya ilmu, jadikanlah manfaatnya menerangi manusia di dunia, tentu akan menerangi Tuan dan Puan di alam kubur. Mari kita sama-sama mengingat bahwa kebajikan yang ditanam akan berbuah kebajikan selamanya.

December 21, 2017

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?