Minimalist

 Akhir pekan kemarin saya lalui dengan cukup manis. Diawali dengan kunjungan ke perpustakaan daerah dan disudahi dengan pernyataan cinta istri saya melalui ubi jalar goreng dan beberapa gelas air jahe.
Saya dan anak sulung saya sepakat untuk mengunjungi perpustakaan daerah di hari Sabtu. Kami hanya pergi berdua. Istri saya lebih suka membaca resep masakan di cookpad dan langsung mempraktekkannya di dapur sementara anak kedua saya cepat sekali merasa bosan. Berkali-kali kenikmatan kami membaca di toko buku terputus dengan berbagai macam alasan. Jadi, untuk menjamin keberlangsungan rencana kami membaca, kami hanya pergi berdua saja. Perpustakaan daerah hanya berjarak sekitar dua puluh menit perjalanan mengendarai sepeda motor dengan santai. Terletak di pusat kota, perpustakaan ini sering menjadi tujuan wisata anak-anak sekolah dari seluruh penjuru Riau. Mereka datang berbondong-bondong menggunakan bus.
Sesampainya di sana kami langsung naik lift menuju bagian Fiksi karena anak saya ingin membaca buku Harry Potter. Sempat salah lantai, kami turun lagi ke lantai dua dengan menggunakan tangga. Koleksi buku fiksi di perputakaan ini cukup lengkap. Mulai dari buku-buku Buku-buku klasik macam Journey to The Center of The Earth-nya Jules Verne, karya-karya Shakespheare sampai Agatha Christy ada di sini. Anak saya lebih dulu menemukan buku Harry Potter yang dicarinya. Saya sih melipir ke bagian sebelah, bagian sejarah. Saya belum tahu mau baca apa, ada tiga buku di rumah yang tidak kunjung selesai saya baca: Babad Dipanegara, Malayan Archipelago-nya Wallace dan Bukan Big Bang-nya teman saya Nurisah Rustandi. Saya kepikiran untuk cari buku semacam Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad yang bacanya tidak harus sampai selesai karena terdiri dari tulisan-tulisan pendek. Sampai di rak buku-buku biografi pandangan saya tertuju pada buku Rihlah Ibnu Bathutah yang dipajang satu rak dengan buku biografi Sukarni. Sebenarnya buku itu lebih tepat berdiri di sebelah Malayan Archipelago-nya Wallace. Saya sudah lama ingin baca buku Rihlah Ibnu Bathutah ini, cuma belum sempat beli. Saya memutuskan untuk membaca buku ini dan menyusul anak saya yang sudah terlebih dulu duduk membaca.
Saya duduk di sebelah anak saya, saya lihat dia sudah sampai di halaman dua puluh lima, berarti sudah sekitar setengah jam saya berputar-putar untuk mencari buku. Kelamaan memilih ya memang begini jadinya, ketinggalan. Ini berlaku bukan hanya dalam memilih buku saja ya, tapi dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam memilih pendamping hidup. Hihi. Tidak usah kita bahas terlalu jauh ya. Kami membaca di meja bagian luar yang lebih terbuka. Sebenarnya ada pilihan untuk membaca di ruang-ruang kaca yang lebih tertutup dan lebih tenang, namun di luar terasa lebih alami dan kami bisa merasakan suasana perpustakaan.
Tepat jam dua belas siang kami berhenti membaca untuk mencari minuman segar dan salat zuhur. Saya memilih untuk keluar komplek perpustakaan dan salat di masjid Al-Falah di jalan Sumatera yang lokasinya tidak terlalu jauh. Setelah salat kami mampir ke warung somay AA di jalan Sisingamangaraja untuk makan siang. Setelah makan, saya tanya anak saya mau pulang atau kembali lagi ke perpustakaan. Dia bilang mau kembali ke perpustakaan. Kami pun balik lagi ke perpustakaan dan tanpa basa-basi lanjut mencari lagi buku yang kami tinggalkan di meja tadi. Rupanya sudah dikembalikan ke rak oleh petugas. Setelah ketemu, kami membaca lagi sampai perpustakaan tutup.
Keesokan harinya, hari Ahad, giliran saya menemani istri belanja, atau lebih tepatnya window shopping karena sampai detik terakhir kami berkeliling, kami tidak membeli satu barang pun. Menurut kami, harga-harga di sana tidak lebih murah atau bahkan lebih mahal dari toko tempat kami biasa belanja. Kami pun pulang dengan tangan hampa. Beberapa barang sempat menarik perhatian istri saya, namun rupanya beliau sudah berprinsip teguh untuk hanya membeli barang yang benar-benar dibutuhkan saja. Memang benar, bila tidak disertai hikmah dan kebijaksanaan, berkeliling tempat belanja seperti ini bisa membuat uang di dompet cepat melayang. Contoh saja ketika melihat Milo dengan hadiah wadah plastik semacam toples, maka yang menarik perhatian adalah bukan produk Milo-nya melainkan hadiahnya. Contoh lainnya adalah di saat kita bisa hanya menggunakan pisau untuk melakukan pekerjaan mengupas apel, mengiris bawang merah dan merajang bawang putih, di bagian peralatan rumah tangga kita akan diperlihatkan bahwa ada alat khusus untuk mengerjakan masing-masing pekerjaan. Terkadang barang-barang juga diciptakan mendahului kebutuhannya.
Di sore hari, istri saya minta diantarkan ke penjahit. Beliau membawa tiga potong pakaian untuk direparasi: satu potong celana anak saya (robek di bagian selangkangan), satu potong celana saya (rusak di bagian pengait resleting) dan sebuah gamis miliknya (saya tidak tahu rusaknya di mana). Selain kerusakan tadi, pakaian tersebut memang masih bagus dan belum waktunya diganti. Setelah menunggu selama lima belas menit, perbaikan ketiga potong pakaian tadi selesai dan saya lihat istri saya menyerahkan uang lima belas ribu rupiah kepada penjahit. Wah murah juga dibandingkan dengan membeli yang baru.
Apa yang istri saya lakukan sebenarnya adalah ngirit. Benar. Tapi sebenarnya lebih dari itu, kami memegang teguh apa yang kami sepakati sekitar dua tahun yang lalu. Menjadi minimalis. Kami pernah punya barang-barang segunung, punya rumah yang selalu berantakan, barang-barang yang tidak pernah selesai dibereskan, membeli semua yang kelihatannya bisa mempermudah hidup dan membuat kami seolah-olah membutuhkannya bahkan dengan berhutang. Dulu pertanyaan kami adalah apa lagi yang harus kami beli untuk bisa memenuhi kebutuhan dan membuat kami lebih bahagia. Lalu kami sampai pada suatu titik di mana kami merasa kebahagian kami tidak lagi bergantung pada apa yang kami miliki. Kami menjual apa yang bisa kami jual, memberikan semua yang bisa kami berikan dan hanya menyimpan yang benar-benar kami butuhkan. Sekarang yang sering dipertanyakan istri saya adalah apakah barang-barang di rumah sudah terlalu banyak? Mana barang yang hendak diberikan? Dan sekarang kami berfikir keras hanya untuk membeli suatu barang. Kami akan mengajukan beberapa pertanyaan seperti apakah sudah benar-benar dibutuhkan? Apakah bisa memakai barang yang sudah kami miliki saja? Apakah hidup kami baik-baik saja jika tidak memilikinya? Apakah ada cara lain selain memilikinya atau membelinya? Jika jawaban pertanyaan pertama adalah ya dan jawaban tiga pertanyaan lainnya juga ya maka kemungkinan kami akan membeli adalah kecil. Dengan begitu, kami dapat mengalihkan kebutuhan untuk memiliki dan membeli menjadi kekuatan yang memberi kami kebebasan. Kebebasan untuk memberi.
"You are not gonna get happier by consuming more" - Jesse Jacobs

October 30, 2017

Comments

Popular posts from this blog

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?

Karya Besar Vincent van Gogh