Meraih dan Merasakan Berkat

Sejak bertugas di Pekanbaru, mengantar anak sekolah adalah hal yang sekarang rutin saya lakukan setiap hari. Hal yang istimewa. Kenapa begitu? Karena saya waktu tinggal di Depok dan ngantor di Jakarta, boro-boro nganterin anak ke sekolah tiap hari, yang ada sebelum anak bangun saya sudah berlari-lari mengejar kereta komuter atau mengarungi kemacetan tol Jagorawi. Solusinya, urusan antar-mengantar anak sekolah ini saya serahkan pada mobil antar jemput sekolah.
Sekitar jam setengah tujuh pagi saya mengantar anak saya yang kelas 4 SD ke sekolahnya karena jam masuk sekolahnya adalah jam tujuh pagi. Perjalanan dari kontrakan ke sekolah sekitar sepuluh menit menggunakan honda (saya menggunakan huruf kecil karena di Pekanbaru semua sepeda motor baik yang merek Honda, Yamaha, Suzuki atau yang lainnya disebut honda). Dalam perjalanan singkat itu ada hal yang sangat saya sukai yaitu menemui kabut. Kabut ya, bukan kabut asap. Tidak turun setiap hari, namun jika kebetulan sedang turun kabut, sepanjang jalan semua terlihat putih dan saya bisa merasakan butiran-butiran air berukuran mikro menabrak muka saya. Jika kabut turun, jarak pandang sangat terbatas dan semua kendaraan harus menyalakan lampu.
Jika turun kabut, udara terasa segar dan saya bisa menghirupnya dengan bebas. Namun, sampai pada titik tertentu saya harus menahan nafas beberapa detik karena melewati tumpukan-tumpukan sampah sepanjang beberapa puluh meter di tepi jalan. Saya kadang bertanya-tanya apa yang ada di benak orang-orang yang membuang sampahnya di sana. Saya yakin orang-orang itu adalah pemberani dan kuat. Berani mengambil resiko dosa jariyah dari setiap orang yang menutup hidungnya ketika lewat dan kuat menanggung dosanya. Jangan-jangan saya yang cuma lewat ini juga ikut-ikutan dosa karena hanya membiarkan ketika melihat ada orang yang menghentikan mobil atau motornya untuk membuang sampah.
Kembali ke soal antar-mengantar. Setelah saya mengantarkan anak yang pertama saya, saya kembali lagi ke rumah. Kali ini giliran anak saya yang kelas satu SD saya antar ke sekolah. Di ronde kedua ini biasanya istri saya ikut. Bukan hanya ke sekolahan anak saya, tapi juga sampai ke kantor saya. Bukannya tidak percaya sampai diantar-antar ke kantor segala, tapi karena motor yang semata wayang harus tetap di rumah karena siangnya istri saya harus mengantar makan siang anak-anak dan sorenya menjemput anak-anak. Setelah menjemput anak-anak, giliran saya dijemput lagi di kantor.
Pindah tugas dari Jakarta ke Pekanbaru jelas membuat saya kehilangan banyak hal. Saya tidak bisa lagi merasakan bermacet-macet ria sambil deg-degan di angkot menuju stasiun, tidak bisa lagi berdesak-desakan dengan ibu-ibu di kereta komuter, tidak bisa lagi menonton pertunjukan di TIM, tidak bisa lagi melihat Monas kapan saja, tidak bisa berkumpul dengan teman-teman sesering mungkin dan melewatkan hal-hal luar biasa lainnya. Namun, ternyata hal-hal yang saya lewatkan itu kini diganti dengan hal-hal lain yang lebih luar biasa. Saya bisa mengantar anak-anak ke sekolah, bisa istirahat siang di rumah, bisa merasakan sore-sore sudah sampai di rumah, bisa menemani anak-anak mengerjakan PR, bisa menemani istri belanja ke pasar, dan manis kehidupan lainnya yang sebelumnya tidak saya rasakan.
Yang ingin saya katakan adalah di mana pun kita berada, Tuhan sudah mempersiapkan berkat-berkat. Tinggal kita mau atau tidak untuk meraihnya dan merasakannya. Meraihnya dengan selalu berbuat baik dan merasakannya dengan bersyukur.
"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." (QS. Ar Rahman : 60)

October 25, 2017

Comments

Popular posts from this blog

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?

Karya Besar Vincent van Gogh