Kaligrafi

Al-Quran 68:4 yang artinya "Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung
Lama tidak menulis kaligrafi. Sore ini saya coba menulis lagi dengan pena sebuah spidol permanen yang ujungnya saya bentuk dengan pisau. Kenapa saya dadakan menulis kaligrafi lagi? Begini ceritanya.
Sore tadi menjelang magrib, setelah kami sekeluarga makan di sebuah restoran piza ala Amerika (saya mengecek KBBI untuk ejaan yang tepat bagi kata "pizza"), kami mampir di sebuah toko yang terpaut hanya satu tok0 dari restoran itu. Nama toko bukunya Zanafa. Sore itu adalah kali kedua saya mengunjungi toko buku Zanafa. Lumayan, suasananya agak beda dari toko buku Gramedia. Jadi, selain menjual buku-buku yang sebagian besar juga dijual di Gramedia, toko buku ini juga menjual buku-buku klasik yang biasa dipakai di pesantren-pesantren dan madrasah diniyah. Beberapa contoh bukunya adalah buku Akhlaq Lil Banin (Budi Pekerti Untuk Anak-anak) dan kitab adab pelajar yang sangat terkenal bagi para santri dengan judul Ta'lim Muta'alim. Bahkan, saya menemukan beberapa buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia yang tidak dijual di Gramedia dekat rumah.
Soal kaligrafi, sepertinya saya mesti cerita agak panjang. Kembali ke tahun 1988, ketika saya masih kelas 3 SD, saya mengikuti orang tua pindah ke kota Pontianak. Tujuan orang tua saya merantau adalah untuk berjualan karya seni berupa hiasan dinding kaligrafi yang terbuat dari adonan pasir dan semen. Adonan ini dicetak pada cetakan yang terbuat dari semen juga. Setelah kering, adonan dilepas dari cetakan dan hasilnya adalah berupa lempengan dengan relief kaligrafi. Untuk mempercantiknya, proses selanjutnya adalah mengecat dan menulis kaligrafi yang terdapat pada permukaan lempengan dengan mengikuti huruf-huruf timbul secara manual. Penjualan hiasan ini dilakukan dari pintu ke pintu.
Saya ingat, untuk beberapa tahun, kerajinan ini sempat menjadi andalan orang-orang kampung saya di Cirebon. Mereka akan merantau ke seluruh pelosok Indonesia, di mana pun yang belum tersentuh pemasaran produk kaligrafi tersebut. Saya sendiri hanya tinggal dan bersekolah di Pontianak sekitar satu catur wulan. Setelahnya saya dikembalikan ke untuk bersekolah di Cirebon dan tinggal bersama nenek. Hiasan kaligrafi dari semen ini membuat orang-orang dari kampung saya merantau di berbagai kota di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara hanya untuk memproduksi dan menjual hiasan dinding ini sampai beberapa tahun setelahnya.
Hiasan kaligrafi dari semen ini hanya bertahan setidaknya sampai menjelang saya masuk SMP karena saya ingat, di awal saya masuk SMP, hiasan kaligrafi dari semen tidak lagi dibuat. Selanjutnya pada sekitar tahun 1994, atau masa-masa awal saya masuk SMU, ada sebuah inovasi yang membuat sebagian besar warga kampung kembali menggeluti kerajinana kaligrafi. Berbeda produk sebelumnya, kali ini kaligrafi dibuat dengan bahan yang lebih ringan yaitu kaca. Kaca yang telah dipotong sesuai ukuran disablon dengan gambar/tulisan yang sebelumnya telah diproses pada skrin sablon. Kemudian bagian tulisan/background yang tidak tertutup tinta dilapisi dengan kertas warna-warni sehingga dari sisi luar akan tampak sangat menarik. Setelah ditutup dengan kertas karton di bagian belakang dan diberi lis sebagai frame pada bagian depan, maka hiasan ini sudah siap dipasarkan.
Produk yang lebih ringan dan waktu pengerjaan yang lebih cepat merubah pola perantauan, sistem produksi dan pemasaran. Pengrajin akan memproduksi sebanyak-banyaknya di kampung halaman untuk kemudian dipasarkan ke kota-kota lain baik di Jawa maupun di luar Jawa. Bahkan, pada waktu itu, beberapa orang sudah mengkhususkan diri, hanya menjadi produsen atau menjadi pemasar saja.
Saya sendiri membuat sesuatu yang lain. Saat itu sedang ngetop menuliskan nama dan tanggal lahir dengan kaligrafi huruf Arab menggunakan spidol pada kertas foto yang telah disablon dengan frame. Bermodalkan pengalaman transliterasi kata-kata Jawa ke Arab Melayu yang digunakan pada waktu mengartikan kitab-kitab gundul di pesantren, saya sempat berduet dengan Papah saya untuk menawarkan kaligrafi kaca dan jasa menuliskan nama dari pintu ke pintu di hampir seluruh pelosok Pontianak dan Batam pada kesempatan liburan semesteran SMU sekitar tahun 1995.
Jadi, kembali ke toko buku Zanafa, sore tadi saya menemukan sebuah buku legendaris yang dulu saya gunakan untuk belajar kaligrafi Arab pada masa-masa SMP yang berjudul 325 Contoh Kaligrafi Arab yang disusun oleh M.Misbachul Munir terbitan Penerbit Apollo Lestari Surabaya. Dari kata pengantar penyusunnya, buku itu pertama diterbitkan di tahun 1991. Semalaman ini saya melihat-lihat dan meniru-niru beberapa tulisan ayat-ayat Al-Quran yang ada di buku itu. Setiap huruf-huruf yang saya coretkan membawa saya pada kenangan-kenangan. Kenangan-kenangan masa lalu yang pahit, manis, baik dan buruk yang mengantarkan saya pada masa kini untuk menggapai masa depan yang gemilang.

January 7, 2017

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?