Posts

Showing posts from November, 2016

Nggak Ada Loe Nggak Rame

Begini, saya mau cerita sedikit, tadi siang atau siang tadi menjelang duhur istri saya dan saya ceritanya mau berangkat belanja membeli beberapa barang kebutuhan yang sudah habis. Karena waktu sudah menjelang salat duhur, istri saya bertanya nanti salat duhur di mana. Saya spontan jawab, salat di jalan aja. Lalu saya buru-buru meralat, nanti salat duhur di masjid, mana boleh salat di jalan, seloroh saya sambil nyengir kuda. Oh ya, ini nggak ada hubungannya lho sama perdebatan kekinian soal salat Jumat di jalan, cuma guyonan dalam rangka menjaga kemesraan suami istri. Well, saya juga jadi ingat guyonan lama soal "Salat itu tidak boleh di langgar" Masak sih tidak boleh salat di langgar? Seperti kita ketahui bersama, langgar adalah kata yang sama artinya dengan musala atau surau. Namun, langgar juga bisa berarti melawan atau menyalahi. Kalimat "salat itu tidak boleh di langgar" dalam bahasa lisan sama saja pengucapannya dengan "salat itu tidak boleh dilanggar.&q…

Dunia Facebook yang Fana

Saya tergolong telat membaca novel '1984' karangan George Orwell yang sangat terkenal itu. Novel '1984' yang terbit di tahun 1949 itu bercerita tentang kehidupan di London tahun 1984. George Orwell menceritakan masa depan versinya. Tahun 1984 di buku tersebut digambarkan sebagai masa ketika kebebasan sudah tidak lagi ada. Bahkan mungkin hampir dihapus dari kamus. Semua kegiatan warga dan bahkan pemikirannya diatur oleh penguasa tertinggi partai yang disebut Big Brother. Entahlah Big Brother ini sebenarnya ada atau tidak tapi digambarkan bahwa si Bung Besar ini selalu mengawasi penduduk London pada saat itu. Rumah-rumah dipasangi alat semacam televisi yang memutar acara-acara yang berisi program-program partai sebagai alat propaganda dan yang paling penting adalah alat ini juga bisa berfungsi sebagai kamera yang bisa melihat dan mendengar, bahkan bisa menilai mimik muka. Alat itu disebut Telescreen. Tempat-tempat umum juga tidak luput dari pengawasan telescreen dan mik…

Dipanggil Bos

Alhamdulillah, hari ini saya cukup sibuk. Sibuk dengan urusan duniawi, nganter istri cari seprei. Saya sih senang-senang saja ngurusin persoalan duniawi karena sesungguhnya urusan duniawi itu ujungnya ya urusan akhirat juga. Saya dan istri mulai bergerak jam 9 pagi ke Pasar Bawah. Pasar Bawah, selain jadi tujuan warga Pekanbaru berbelanja, cukup terkenal juga sebagai salah satu tujuan wisata di Pekanbaru. Pasar Bawah ini kalau di petunjuk jalan disebut Pasar Wisata. Kunjungan kamu ke Pekanbaru belum lengkap kalau nggak mampir ke Pasar Bawah. Setelah mendatangi beberapa kios, seprei yang dicari nggak ketemu juga. Meski begitu, kami berhasil membawa satu kresek besar berisi beberapa jajanan dari sebuah kios yang banyak diserbu pengunjung Pasar Bawah. Well, setelah Dzuhur, saya dan istri kembali berkeliling kota ke beberapa tempat mencari apa yang dicari, kali ini bersama anak-anak. Setelah menemukan apa-apa yang dicari, kami bertolak dari mal Seraya untuk pulang ke rumah karena waktu s…

Karya Nyata

Pekan ini saya banyak mendapatkan kegembiraan. Salah satunya berasal dari istri saya. Dia memang setiap hari memberi saya kegembiraan, namun pekan ini sedikit beda. Akhir pekan sebelumnya, kami mampir di sebuah kios perlatan rumah tangga untuk membeli sebuah oven. Sebenarnya, sejak dari bertahun-tahun lalu sebelum dijual ke tetangga, kami sudah pake kompor canggih yang sudah ada oven-nya tapi saya nggak ingat satu kali pun istri saya pernah pakai ovennya untuk membuat kue atau bolu. Setelah menawar seperlunya (tidak afgan), tanpa banyak cincong, kami akhirnya membeli oven manual made in Indonesia merek Hock seharga 450 ribu rupiah. Kelar membeli oven, saya bilang kepada istri saya sebaiknya kita langsung pulang saja, padahal saya tahu istri saya sebenarnya ingin sekali singgah ke toko panci di lantai 3 Pasar Bawah untuk beli kukusan. Saya bilang lain kali saja, repot bawa-bawa kardus oven-nya, padahal sih karena dompet saya memang sedang cekak saja. Setelah beberapa hari oven-nya nga…

Tiga Kaki

Kemarin anakku punya tebak-tebakan, "Apa yang kalau pagi berjalan dengan empat kaki, siang dia berjalan dengan dua kaki, dan di kala malam dia berjalan dengan tiga kaki?" Aku menjawab dengan jawaban yang mungkin paling pintar, "Manusia!" "Benar." kata anakku. Tapi aku malah bingung dengan jawabanku sendiri. Lalu aku bertanya, "Bagaimana bisa manusia berjalan dengan tiga kaki?" Anakku lalu menerangkan bahwa saat masih bayi, manusia berjalan dengan merangkak, selanjutnya dia berjalan dengan dua kaki dan ketika sudah tua dia akan memerlukan tongkat untuk berjalan, itu tiga kaki. Lalu aku tersenyum agak lama.
November 2, 2016