PJ20: 1991 Part 4


December 15, Club DV8, Salt Lake City
Jeff Ament terluka di pergelangan kaki karena melompat di show ini.
Jeff Ament: Itu terjadi di sebuah show setelah leg pertama tur band Chilis sebelum libur Natal sepuluh hari, sebelum kami menyelesaikan tur West Coast bersama the Chilis dan Nirvana. Saya cedera parah di pergelangan kaki, hanya bisa terlentang sepanjang liburan, dan pincang hampir di sepanjang tur setelah Natal.
Eric Johnson: Itu adalah kali ketiga dia ke UGD di tur ini. Dia selalu loncat-loncat dan
sumpah saya bisa mendengar bunyi hentakan kakinya mengiringi musik.
Christmas
Pearl Jam merilis holiday single-nya yang pertama berupa piringan hitam 7 inci yang dibagikan khusus untuk fans. Single ini berisi dua lagu baru: “Let Me Sleep (It’s Cristmas Time)” dan “Ramblings”
Jeff Ament: Ide awalnya adalah dari klub penggemar Mother Love Bone yang mungkin anggotanya hanya 100 atau 200 orang saja. Saya menulis beberapa surat atau kartu pos dengan tulisan tangan  kepada mereka. Soal single itu, Kelly Curtis punya banyak sekali single dari fans klub the Beatles yang dia dapatkan waktu dia kecil. Saya rasa itu keren sekali. Ide memasangkan dengan “ramblings” adalah untuk membuat semacam versi gila dari greeting-nya Beatles di side B single mereka. Lalu ada masanya ketika “Rambling” tidak memiliki arti apa-apa. Nggak ada tujuan yang jelas seperti apa jadinya. Kami fikir mungkin lain kali kita bisa masukan lagu-lagu yang normal atau lagu-lagu yang lebih eksperimental.
December 27, Los Angeles Memorial Sports Arena Los Angeles
Empat show pertama dengan Nirvana menggantikan Smashing Pumpkins dalam tour RHCP. Pearl Jam mengambil slot itu dari Soundgarden yang menolaknya karena lebih memilih tur dengan Guns N’ Roses. Tampil pertama, Vedder berniat memberikan kesan kepada penonton dengan berlari dari panggung ke belakang arena lalu kembali lagi ke panggung. Sebelumnya dia bolak-balik di barisan kursi dan berusaha terlihat tidak kesakitan.
Jeff Ament: Show-show awal musim gugur, seperti di Madison, Wisconsin, hanya dihadiri oleh 200-an penonton. Akan tetapi di minggu-minggu selanjutnya terlihat lebih penuh. Akhirnya, ketika kami tur di West Coast bersama Nirvana, tempat konser terlihat penuh. Perubahan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Dave Grohl : Saya mendengar “Alive,”  dan saya ngeh kalo itu adalah bandnya, “Oh! Ini toh band nya” Lalu saya berjalan untuk melihat mereka bermain dan Eddie ternyata sedang di atas rangka atap gedung. Saya sudah tahu kalau mereka bakal jadi besar. Lucunya, ini sangat tidak masuk akal, mereka berangkat dari band yang kehabisan bensin di jalan menjadi band yang bisa menjual tiket arena berkapasitas 20.000 penonton. Saya kira ada sesuatu yang bisa membuat mereka begitu, hubungan mereka dengan penonton baik secara musik maupun lirik dan energi yang saling mereka beri dan terima. Hal itu pasti terjadi. Hanya soal waktu saja.
December 28, Del Mar Pavilion, San Diego
Vedder mempertaruhkan segalanya dengan aksi panggungnya dan membuat dirinya berada dalam situasi yang sulit ketika dia memanjat rangka atap di tengah-tengah lagu “Porch.”
Eddie Vedder: Ada kalanya saya sampai pada situasi saya mulai memanjat tembok, dan masalahnya adalah pada saat itu satu-satunya yang bisa dipanjat adalah rangka atap setinggi 30 meter. Saya cukup ngeri juga, tapi apa boleh buat, saya mesti panjat juga, jadi coba kita lihat apa yang bakal terjadi. Ada sebuah palang yang bisa saya peluk dengan tangan, tapi begitu sampai di atas, posisi saya adalah bergelantungan dengan jari-jari tangan dan kaki saya. Saya bergelantungan pada palang yang basah dan lembab dengan ujung jari. Untungnya, berat badan saya pada saat itu hanya sekitar 50 kg, jadi cukup enteng. Saya merangkak dengan posisi terbalik sejauh 15 meter sampai saya menemukan rantai tempat lampu bergantung. Saya sadar penonton di bawah saya adalah keluarga dan saya berusaha tidak mati di depan saudara-saudara saya. Lalu saya turun dengan rig lighting dan meraih kabel mikrofon, berayun kembali ke panggung dan ketika lagu berhenti, saya pergi ke bibir panggung dan merasa sangat mual. Di sanalah saya sadar kalau apa yang saya lakukan sangatlah bodoh. Tapi saya melihat sesuatu yang berbeda. Saya berada di posisi yang sama seperti seorang ibu yang bisa mengangkat sebuah mobil untuk menyelamatkan anaknya. Kira-kira seperti itu.
Di sana lah dan ketika mempunyai kesempatan untuk manggung di depan penonton dengan jumlah yang lebih besar, saya merasa saya tidak punya apa pun untuk dipertaruhkan. Saya tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa datang. Apa yang ada dipikiran saya pada saat itu adalah saat “sekarang”. Dan itu adalah bagian dari pesan yang ingin saya sampaikan kepada penonton. Ada kalanya saya mengingat hal-hal tersebut secara spontan. Tapi di malam-malam tertentu, saya merenung bahwa semua mungkin memang harus berjalan seperti itu. Saya tidak akan melupakan malam-malam itu dan saya kira saya juga tidak ingin para penonton melupakannya.
Mike McCready: Dia berada puluhan meter di atap gedung pertunjukan di atas penonton. Saya cuma bisa ngomong di dalam hati, “Ok, kejadian lagi nih,” karena memang dia sering melakukan itu. Saya sering melihat dia manjat-manjat begitu, tapi kali ini bener-bener kelewatan, saya merasa sangat khawatir, saya merasa khawatir setiap dia melakukan itu, kalau-kalau dia jatuh dan mati. Baguslah, setidaknya dia masih hidup.
Eric Johnson: itu adalah hal yang paling menakutkan yang saya pernah lihat di sebuah konser. Kamu bisa melihat jari-jarinya merayap di rangka yang berkarat. Saya berada tepat di bawahnya ketika dia melakukan itu. Saya pikir saya mungkin bisa menahannya kalau dia jatuh, tapi dia tidak. Saya kira Eddie memang benar-benar ingin melakukannya. Dia akan melakukan apa saja untuk sebuah pertunjukan, baginya setiap malam sudah seperti perlombaan. Dia hampir pasti melompat ke penonton setiap “Porch” dimainkan dan saya mulai membenci lagu itu karenanya. Itu membuat saya  sakit.
December 31, Cow Palace, Daly City, California
Tahun pertama ketenaran Pearl Jam diakhiri dengan pertunjukan malam tahun baru bersama Nirvana dan red Hot Chili Peppers. Pearl Jam bermain hebat selama 30 menit. Vedder dengan penuh emosi berkata: “Walaupun saya tidak main dengan band ini” ujarnya, “saya yakin saya akan tetap berada di sini.” Sebelum lagu “Porch” seseorang mulai memainkan riff lagu “Smells Like Teen Spirit”-nya Nirvana. Lalu Gossard berseloroh, “Ingat ya, kita yang pertama mainin lagu ini.”
Jeff Ament: Saya merasa kalau itu adalah pertunjukan terbesar dalam hidup kami. Kami bermain bersama Nirvana. Ada sedikit nuansa persaingan pada saat itu dan ada sedikit ketegangan di antara kita. Pemain bass Nirvana, Krist Novoselic keluar dan memberitahu kami kalau ada jukebox umum yang bisa kita pakai di area belakang panggung. Dia marah karena kami memainkan lagu-lagu Crosby, Still, Nash & Young dan lagu-lagu the Beatles. Lalu dia menandai lagu-lagu apa saja yang tidak boleh kami mainkan. Saya tidak peduli dan malah terus memutar lagu-lagu yang dilarangnya. Kemudian dia datang lalu menghajar jukebox itu ketika lagu sedang diputar. Akhirnya, jukebox itu kita cabut juga.
Mike McCready: Kami sedang berada di bus tour setelah show, kami mendengar kalau Nevermind sebentar lagi akan menjatuhkan Michael Jackson dari puncak tangga album. Saya ingat ada seorang teman masuk ke dalam bus kami mencari Kurt untuk memberinya selamat tanpa sadar kalau dia salah bus. Ada sekelompok anak-anak yang menggila ketika kami bermain di atas panggung, dan semuanya meledak. Saya merasa kalau kami cukup pantas untuk meraih apa yang Nirvana raih.
Photos are taken from Pearl Jam Twenty Book/Words are the translation of Pearl Jam Twenty Book/ copyrights belong to the author of the book. 

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?