Belajar dari Masa Lalu

Kemarin adalah hari yang spesial buat saya. Spesial karena satu target untuk berkunjung ke tempat yang biasanya hanya saya dilewati saja sejak saya sampai di kota Pekanbaru tercapai sudah. Seharian kemarin, saya menghabiskan waktu di Pustaka Wilayah Riau yang disebut juga Pustaka Soeman Hs. Soeman Hs adalah seorang sastrawan keturunan Tapanuli asal Bengkalis, Riau. Karyanya, Mencari Pencuri Anak Perawan dikenal sebagai novel detektif pertama dalam kesusastraan Indonesia modern. Pustaka Soeman Hs terletak di jalan Sudirman tidak jauh dari kantor Gubernur Riau. Kalau kita mengunjungi kota Pekanbaru, Pustaka ini pasti terlewati karena letaknya di pusat kota.
Well, karena menurut informasi yang saya dapat dari beberapa website, pustaka ini buka jam 9 pagi, jadilah saya datang jam 9 pagi. Ternyata menurut petugasnya, pustaka sudah buka jam 8 pagi lho, besok-besok saya bakal datang lebih pagi deh.
Pada saat saya masuk ke gedung pustaka, suasana sudah lumayan ramai. Di lantai dasar kita bisa menemukan meja informasi, penitipan tas, loker, toilet dan ruang baca anak-anak. Di lantai 1,2, dan 3 kita akan menemukan lebih banyak buku baik fiksi maupun nonfiksi. Setiap lantai menyediakan meja-meja baca yang nyaman, beberapa komputer yang bisa digunakan, dan ruang-ruang diskusi. Bila dibutuhkan, ruang diskusi ini bisa digunakan oleh pengunjung kelompok untuk berdiskusi dengan bebas tanpa mengganggu pengunjung yang lain.
Karena tidak memiliki keperluan untuk mencari data atau buku tertentu, saya agak bingung juga menentukan buku yang akan saya baca. Sepertinya setiap buku yang dipajang di rak-rak yang saya lewati semua menunggu untuk digapai dan dibaca. Melewati sekian banyak buku dari berbagai bidang keilmuan, mendadak saya merasa kecil dan seperti tersesat di ruangan penuh dengan makanan tapi tidak tahu apa yang harus saya makan. Bagaimana juga sepertinya saya harus mengambil satu buku dan mulai membaca sebelum benar-benar pusing karena bingung.
Saya akhirnya mengambil dua buku, buku pertama adalah buku karya G.M. Sudarta yang berjudul Indonesia 1967-1980 yang merupakan kumpulan karikatur Oom Pasikom yang diterbitkan di harian Kompas periode 1967-1980 dan buku yang kedua adalah sebuah novel karangan Saddam Hussein yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Tarian Setan. Membaca sekilas, disebutkan dalam pengantar, naskah novel ini dilarikan putri Saddam dari Irak dan diterbitkan di Yordania dua hari sebelum agresi militer Amerika Serikat ke Irak.
Saya mulai membaca dengan antusias buku pertama. Saya baca semua kata pengantarnya dan mulai membuka halaman demi halaman karikatur. Saya tidak berhenti tersenyum selama membaca (melihat) karikatur-karikatur yang ada. Hal yang membuat saya semakin tersenyum adalah bahwa walaupun saya tidak hidup pada periode tema-tema dalam karikatur tersebut dibuat (1976-1980), hampir sebagian besar tema-tema tersebut masih terasa aktual sampai beberapa dekade kemudian di zaman saya remaja dan menginjak dewasa. Bahkan, ajaibnya, beberapa karikatur masih tepat untuk menggambarkan kondisi masa kini.
Membaca buku karikatur ini lama-lama membuat senyum saya yang manis menjadi kecut dan berangsur pahit. Mengapa? karena dengan membaca buku ini saya jadi tersadar bahwa sebenarnya kita ini belum benar-benar membaca apalagi belajar. Banyak persoalan yang bahkan sebelum saya lahir sudah ada namun belum terselesaikan sampai saat ini.
Membaca sejarah, melihat kebelakang untuk masa depan yang baik dan menghindari kesalahan masa lampau adalah hal yang diperintahkan. Membaca diri, melihat kekurangan diri untuk kemudian memperbaikinya di masa depan adalah dianjurkan.
Saya jadi teringat diri sendiri jangan-jangan saya belum bisa membaca diri saya sendiri dengan baik. Saya bahkan belum bisa membaca apa yang saya tulis sendiri dalam kehidupan. Lalu muncul gelembung-gelembung pertanyaan di benak saya: Apakah yang telah saya lakukan di masa lalu bisa berguna untuk hari esok? Apakah amal perbuatan saya sudah cukup untuk menjadi bekal di kehidupan kemudian? Apakah saya sudah bisa senantiasa memperbaiki diri sehingga bisa memperoleh keselamatan di masa depan?
Pertanyaan-pertanyaan di atas terus terang membuat saya sangat lapar. Saya bahkan belum sempat membaca novel karya Saddam Husein yang saya ambil tadi. Lapar dan dahaga membuat saya berakhir di sebuah warung sate Tegal. Saya kemudian menenangkan diri dengan sepiring nasi, sepuluh tusuk sate kambing dan segelas teh es.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” - Q.S AL-HASYR (59) : 18

May 29, 2016

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?