Facebook dan RM Padang

Dulu, seingat saya, membuka website media sosial seperti facebook berguna untuk berhubungan dengan teman dan juga menambah pertemanan.
Seperti saat kita bertamu ke rumah seseorang, setelah kita mengucapkan salam, sampurasun atau mengetuk pintu biasanya kita diizinkan masuk atau mungkin hanya ditemui di luar. Kalau kita diizinkan masuk, pemilik rumah biasanya mempersilahkan kita duduk di ruang tamu. Di sana, mungkin kita akan
melihat foto-foto pemilik rumah. Ada foto pernikahan, foto keluarga, mungkin juga satu dua foto liburan.
Di ruang tamu, biasanya tuan rumah memajang beberapa hiasan atau barang-barang yang berhubungan dengan kesukaan atau hobinya. Pokoknya yang bisa sedikit mencerminkan pribadi pemilik rumah. Kalau kita sudah cukup dekat atau mungkin dekat banget dengan pemilik rumah bisa jadi kita diajak ke ruangan yang lain, mungkin ke kamar, supaya ngobrolnya lebih enak.
Sekarang-sekarang ini, terima kasih kepada tombol like dan share, membuka facebook sudah seperti masuk ke rumah makan padang. Begitu kita duduk di depan meja, tanpa basa-basi makanan beraneka rupa akan dihidangkan di meja. Mulai dari nasi, lauk seperti gulai kikil, rendang, gulai kambing, gulai otak, gulai cumi, ayam goreng, ayam bakar, dendeng balado, semur jengkol, semur daging kambing, udang goreng, ati ampela balado dan kawan-kawan sampai aneka sambal dan lalapan akan dihidangkan di meja.
Setelah makanan terhidang maka kita pun bebas untuk memilih lauk-lauk mana saja yang hendak dimakan. Tentu saja beda orang beda cara menghadapi makanan yang sudah dihidangkan di depan mata itu.
Dari sisi lauk, ada yang mengambil lauk tertentu saja, biasanya karena sedang diet, punya makanan pantangan karena sakit, tidak terlalu suka lauk yang lainnya atau memang tidak terlalu suka masakan Minangkabau. Namun, ada juga yang mengambil lauk apa saja, semuanya dimakan, baginya tidak ada makanan yang tidak enak, yang ada hanya enak dan enak banget. Apalagi kalau makannya itu ada yang bayarin.
Dari sisi banyaknya makan, ada yang makan secukupnya, ada juga yang makan sepenuhnya. Bagi yang suka makan sepenuhnya biasanya punya trik khusus. Triknya adalah menyisakan lauk di piringnya, jadi dia "terpaksa" ambil nasi lagi, setelah itu lauknya habis dan nasi masih tersisa jadi dia ambil lauk lagi. Begitu seterusnya sampai sudah tidak ada lagi tempat di perutnya.
Kira-kira, dengan kondisi yang sama, tipe pemakan manakah yang akan lebih sehat nantinya?

December 6, 2015

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?