Buku Manual

Sekitar 2 tahun yang lalu, saya diberi kesempatan untuk mengikuti short course beberapa minggu di Jepang. Saya tentu sangat senang sekali, apalagi beberapa aktris dan penyanyi favorit saya berasal dari Jepang dan tentu saja saya senang bisa melihat negeri asal Toyota, Honda, Yamaha, Kawasaki dan hampir semua merek motor dan mobil berasal.
Karena hanya beberapa minggu, saya ingin bawaan saya tidak terlalu banyak dan untuk laptop pun saya membawa yang paling kecil yang saya punya.
Sesampai di sana, saya langsung diantar ke pusat pengajaran sekaligus asrama yang telah disediakan. Asrama itu berlokasi di tengah kota Tokyo. Karena kamar belum siap, maka saya dipersilahkan untuk menunggu.
Sambil menunggu, saya mencoba menyalakan laptop dan mencari-cari sinyal wifi. Ternyata tidak ada. Kemudian saya tanya ke resepsionis apakah ada wifi gratisan di ruang tunggu, ternyata memang tidak ada. Ya sudah. Lalu saya tanya apa di kamar ada internet. Jawabannya cukup menggembirakan sekaligus menyediahkan: di kamar ada internet namun hanya menggunakan kabel LAN. Menggembirakan karena ada internet dan sekaligus menyedihkan karena laptop yang saya bawa tidak ada port untuk kabel LAN.
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menggunakan internet dengan kabel LAN pada laptop yang tidak ada port nya? Jawabannya adalah USB to LAN adapter! Saya diminta ke ruang IT dan diperlihatkan LAN adapter itu seperti apa. Lalu saya tanya, apakah itu bisa dipinjam. Dan jawabannya adalah maaf tidak, tapi kamu bisa beli di toko-toko aksesoris komputer. Okeh lah kalo begitu.
Sorenya, karena ngebet pengen facebookan dan chatting dengan istri dan anak-anak, saya bergegas ke pusat komputer terdekat. Sampai di sana, saya malah bingung, karena tokonya besar dan sepertinya menjual semua barang, dari kamera sampai flashdisk. Capek mencari-cari sendiri, saya akhirnya bertanya kepada seorang pramuniaga, dengan bahasa inggris tentunya karena saya tidak bisa bahasa Jepang. Rupanya tidak begitu berguna karena dia tidak mengerti bahasa inggris. Setelah lama menerangkan dengan kata-kata kunci dibumbui dengan bahasa isyarat, akhirnya dia mengerti apa yang saya mau: USB to LAN adapter. Okeh, selesai. Belum selesai ternyata, karena dia bilang dengan seluruh kemampuan bahasa inggrisnya kalau itu hanya buat di Jepang dan dia tidak tahu apakah alat itu bekerja untuk laptop dari luar Jepang. Baiklah saya mengerti, dari pada nggak dapat apa-apa saya beli juga adapter itu.
Sampai asrama, saya langsung buka laptop, dan langsung membuka kemasan adapter itu dan ternyata terdapat sebuah mini disc yang menurut tebakan saya -karena semua tulisannya saya tidak mengerti- berisi software untuk menginstall adapter itu. Dengan menggunakan cd-rom portable yang saya bawa -laptop saya tidak ada cd-rom nya juga- saya lalu membuka cd itu dan saya tambah bingung mana lagi yang saya klik karena sekali lagi, saya tidak mengerti nama folder dan file yang ditulis dengan huruf Jepang.
Dengan meraba-raba, saya klik apapun yang terlihat seperti installer. Lalu, saya tambah bingung. Namun, berbekal pengalaman menginstal berbagai macam hardware dan software sebelumnya, saya asumsikan urut-urutan menginstall adalah sama. Saya lihat kotak kecil seperti meminta persetujuan lalu saya beri tanda check dan dibawahnya ada dua box, yang satu di kiri dan yang satu di kanan. Ilmu menebak-nebak saya gunakan lagi, yang dikiri pasti box bertuliskan back dan yang kanan bertuliskan next. Baiklah, akhirnya saya mengklik kotak di sebelah kanan sampai habis. Ajaib, software untuk adapter sudah terinstall dengan benar. Syukurlah ilmu meraba-raba saya dan menebak-nebak saya terpakai.
Walaupun sudah lega karena adapter sudah terinstal dengan baik, perhatian saya tertuju pada buku manual yang juga disertakan dengan adapter itu. Saya bertanya kenapa sih tidak diberi manual bahasa inggris saja, pasti lebih cepat saya menginstalnya dan tidak bikin repot. Hey, bukannya kamu lebih baik bertanya kenapa sih saya tidak belajar menulis dan membaca tulisan Jepang? Pasti kamu mengerti dan tidak buang-buang waktu di toko dan menginstal dengan ilmu tebakan.
Seperti hal nya adapter tadi, hidup ini pun pasti ada manualnya juga.
Sebagai muslim, manual kita dalam mengarungi hidup adalah Al-Quran dan Hadist yang keduanya ditulis dalam bahasa Arab. Selain itu, kitab-kitab para ulama pun banyak ditulis dalam bahasa Arab.
Memang sekarang Al-Quran, hadist dan kitab-kitab para ulama sudah banyak yang diterjemahkan salam bahasa indonesia. Namun, sebagai muslim tidakkah kita ingin menyelami petunjuk hidup kita dalam bahasa aslinya, supaya lebih memahami dan menyelami makna-makna yang dikandung di dalamnya?
Akhir-akhir ini saya mulai kembali menyegarkan ingatan saya pada bahasa Arab yang dulu saya pernah pelajari. Saya mempelajari lagi kaidah-kaidahnya. Saya mengundang guru ke rumah untuk mengajari dan mengakrabkan istri dan anak-anak saya bahasa Arab. Saya ingin mengakrabkan diri saya pribadi, istri saya dan anak-anak saya dengan bahasa yang dipilih Allah untuk menyampaikan wahyu kepada Rasul-Nya.

September 23, 2015

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?