"Apa masih mau masak-memasak dengan minyak sawit?"

"Apa masih mau masak-memasak dengan minyak sawit?"
Pertanyaan itu ada di wall seorang teman nya teman facebook saya.
Saya sudah lama tidak. Sudah sekitar tiga tahun terakhir saya tidak lagi memakai minyak sawit untuk memasak. Saya memakai minyak kelapa. Ketika istri saya bertanya kepada saya kenapa tidak mau lagi memakai minyak kelapa sawit, saya bilang banyak pengusaha sawit merubah hutan alami secara masif menjadi perkebunan.
Sekitar 2 tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi perkebunan sawit. Perkebunan yang saya kunjungi terletak +-4 jam perjalanan dari Palembang. Sampai di sana saya disuguhi pemandangan yang membuat saya takjub : pohon sawit sejauh mata saya memandang. Kalau boleh saya bernyanyi maka saya akan bernyanyi "main-main ke kebun sawit luas-luas sekali.. kiri kanan ku lihat saja pohon sawit semuaaa.."
Luas perkebunan sawit itu puluhan bahkan ratusan ribu hektar. Pohon-pohon sawit ditanam dengan rapih berjajar-jajar ditanam dengan jarak yang sama dalam blok-blok dengan luas yang mungkin sama. Selama perjalanan ke dalam kebun menuju pabrik pengolahan CPO saya harus berbaik-baik kepada driver, karena jalan-jalan, persimpangan dan semua blok kebun terlihat sama dan saya tidak melihat penanda yang berarti. Artinya, kalau dia menurunkan saya di kebun, saya tidak akan bisa kemana-mana.
Di perjalanan pulang, kami melewati jalan yang berbeda sambil ditunjukkan sisi perkebunan yang lain. kami melewati perkebunan karet yang sedang diratakan. Menurut pegawai perkebunan yang mengantar, harga karet semakin hari semakin tidak bagus sehingga kebun karet akan dipersiapkan untuk sawit. Istilahnya, sawit lebih seksi dari karet.
Perkebunan sawit terus bertambah, bukan hanya di Sumatera, bahkan juga merambah ke Kalimantan dan pulau-pulau lainnya. Sawit siap menggantikan hutan-hutan tropis alami. Kenapa perkebunan sawit kian hari kian bertambah? Karena kebutuhan akan minyak sawit terus meningkat. Kenapa kebutuhan minyak sawit terus meningkat? Karena produk-produk berbahan dasar minyak sawit sangat banyak. Salah satunya adalah minyak goreng sawit. Permintaan minyak goreng sawit selalu meningkat, karena makanan yang digoreng itu enak. Kita pagi siang sore makan pakai gorengan, ngemil gorengan, semua-muanya digoreng. Jadi siapa yang meminta pengusaha sawit memperluas kebun? Ya kita-kita juga. Terus bagaimana? Paling gampang si kurangi konsumsi gorengan atau kalau tidak mengurangi gorengan ya ganti saja minyaknya. Banyak pilihan minyak selain minyak sawit. Mahal? Apakah semahal harga yang harus dibayar karena mengubah hutan menjadi perkebunan sawit?
Saya sih melakukan hal-hal kecil saja, tidak bermimpi melakukan hal-hal yang raksasa, salah satunya adalah mengurangi konsumsi minyak sawit. Setidaknya saya tidak menambah alasan pengusaha untuk memperluas kebun sawit.
"Apa masih mau masak-memasak dengan minyak sawit?"
Sekarang pertanyaan itu pindah ke wall saya.

October 25, 2015

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?