Pearl Jam to Disobey the Master

Cosmozone.fr

Album kedua Pearl Jam "Vs." merupakan album dengan penjualan tercepat kala itu dengan rekor 950.000 kopi pada minggu pertama. Pearl Jam saat itu sudah menolak untuk membuat video klip dan mengeluarkan single. Satu-satunya cara mereka untuk tetap bertahan adalah dengan mengadakan tur. Agar tiket konser mereka tetap terjangkau, Pearl Jam berusaha untuk menekan harga tiket tetap dibawah $20. Namun, dengan harga tiket $18 dan biaya layanan yang ditetapkan Ticketmaster yang mencapai $3.75 per tiket hal tersebut tidak mungkin terjadi.

Pergumulan Pearl Jam dan Ticketmaster dimulai awal Maret 1994 ketika Pearl Jam memainkan dua show di Chicago yang salah satunya dikhususkan untuk anggota ten club. Stone Gossard memberikan kesaksian di depan kongres, "Ticketmaster bersikeras untuk mengenakan biaya layanan $3.75 pada tiket konser kami yang harganya $18. Kami bernegosiasi dengan general manajer Ticketmaster di Chicago dan memperoleh kesepakatan untuk mencantumkan secara terpisah biaya layanan Ticketmaster dan harga tiket sebenarnya. Namun, ketika tiket dijual, mereka ingkar janji. Kami harus mengancam mereka kalalu kami akan main di venue yang lain sebelum akhirnya mereka berubah fikiran dan setuju untuk menjual tiket yang secara jelas memisahkan harga tiket dan service charge nya. Namun begitu, Ticketmaster memberitahu kami kalau perjanjian itu hanya berlaku untuk show kami di Chichago, dan tidak akan berlaku di tempat lain."

Jauh sebelum itu, embrio ketidaksenangan Pearl Jam akan Ticketmaster dimulai sebelum mereka mengadakan konser gratis "Drop in the Park"  di Magnusin Park Seattle 20 September 1992. Walaupun gratis, pihak pemerintah kota mengharuskan mereka menyebarkan tiket untuk membatasi jumlah penonton dengan alasan keamanan. Pearl Jam menghubungi Ticketmaster untuk kerjasama distribusi tiket. Untuk distribusi tiket gratis ini Ticketmaster meminta tidak kurang dari $1.5 setiap tiketnya. Dengan penonton sebanyak 30.000 orang maka Pearl Jam harus mengeluarkan $45.000 kepada tiket master. Jumlah tersebut sama dengan lebih dari sepertiga jumlah uang yang dikeluarkan Pearl Jam unutk menyelenggarakan konser. Dan itu merupakan hal yang tidak masuk akal. Akhirnya Pearl Jam meninggalkan Ticketmaster dan mendistribusikan tiket mereka melalui stasiun-stasiun radio.

Perseteruan berlanjut ketika Pearl Jam mencoba mencari cara lain untuk mempertahankan harga tiket dan service charge serendah mungkin. Gossard menyatakan di depan kongres bahwa Pearl Jam memutuskan untuk menggunakan fans club dan sistem lotre untuk mendistribusikan tiket mereka di Detroit. Namun hal ini ditanggapi Ticketmaster dengan mengancam promoter konser dengan tuntutan hukum karena melangar perjanjian dengan membiarkan metode distribusi ini berjalan dan Ticketmaster juga mematikan mesin tiket promoter sehingga mereka tidak dapan mencetak tiket.

Mei 1994, Pearl Jam mengumumkan bahwa mereka tidak akan melakukan tur sampai menemukan tempat yang cocok untuk konser mereka. Masalahnya adalah semua venue yang besar telah mempunyai kontrak eksklusif dengan Ticketmaster dan Ticketmaster tidak mungkin setuju untuk membatasi service charge sampai sepuluh persen dari harga tiket.

Departemen Kehakiman yang rupannya turut mengamati kasus ini dari berita-berita di media menyarankan Pearl Jam untuk memasukan memo kepada divisi antitrust. Pearl Jam menyetujui saran tersebut dan memakai jasa sebuah firma hukum besar Sullivan & Cromwell untuk membuat draft memo yang berisi keberatan mereka terhadap Ticketmaster. Memo yang disampaikan kepada Divisi Antitrust Departemen Kehakiman Amerika Serikat tersebut Pearl Jam menyebutkan bahwa Ticketmaster melalui kontrak-kontrak eksklusif nya dengan venue-venue dan promoter besar telah melakukan sebuah praktek monopoli di dalam bisnis distribusi tiket konser. Pearl Jam juga menuduh Ticketmaster melakukan tekanan kepada para promoter untuk tidak menangani konser Pearl Jam.

Tindakan Pearl Jam ini ditanggapi santai oleh pihak Ticketmaster yang tetap yakin kalau apa yang mereka lakukan sesuai dengan hukum yang berlaku. Mereka malah menganggap aksi ini sebagai cara Pearl Jam untuk menggenjot penjualan album mereka. Juru bicara Ticketmaster Larry Solters berkata, "Band ini menolak untuk mengeluarkan single, mereka juga tidak lagi membuat video klip dan sekarang mereka memutuskan untuk tidak tur, adakah cara yang lebih baik untuk mendapatkan publikasi album baru mereka selain dengan membuat sensasi?"

Pada tanggal 30 Juni, Jeff Ament dan Stone Gossard memberikan kesaksian di depan kongres mengenai masalah Ticketmaster. Inti dari kesaksian Gossard dan Ament adalah bahwa Ticketmaster mempunyai kontrak eksklusif dengan hampir seluruh venue konser besar di Amerika Serikat. Band-band tidak mempunyai alternatif yang memadai untuk mendistribusikan tiket mereka, hal ini memberikan kekuasaan kepada Ticketmaster untuk mengendalikan hal-hal seperti service charge.

Stone berkata, "Sebenarnya sederhana saja, kita punya perbedaan pandangan dengan Ticketmaster mengenai bagaimana dan berapa sebuah tiket konser seharusnya dijual. Kami tidak bisa memaksa Ticketmaster untuk melakukan bisnis mengikuti kehendak kami, namun kami juga percaya bahwa kami seharusnya punya kebebasan untuk merangkul pihak lain seandainya Ticketmaster keberatan dengan syarat-syarat yang kita tetapkan."

Pada kesempatan yang sama, juru bicara Ticketmaster, Fred Rosen, diberikan kesempatan untuk memberikan pernyataan. Mereke menganggap memo Pearl Jam ini merupakan "sebuah kampanye PR untuk mendiskreditkan Ticketmaster". Rosen mengatakan, "Sullivan&Cromwell berupaya membuat sebuak kesan seolah-olah Pearl Jam tidak akan bisa mengadakan konser tanpa berhubungan dengan Ticketmaster. Itu salah besar. Ada banyak venue dan promoter di negeri ini yang bisa digunakan Pearl Jam untuk menggelar konsernya tanpa melibatkan Ticketmaster. Banyak promoter yang tidak punya perjanjian apa-apa dengan Ticketmaster, yang pasti mau untuk menyelenggarakan tur mereka."

Rosen melanjutkan, "Awal tahun ini, Pearl Jam menyatakan kalau mereka ingin melakukan tur dan mereka ingin fans mereka membayar tidak lebih dari $20. Tidak ada keberatan dari Ticketmaster tentang hal itu. Pearl Jam bebas memnentukan harga tiket mereka berapapun mereka mau. Namun, apa yang dilakukan Pearl Jam adalah, mereka memutuskan kalau harga tiket mereka adalah $18 dan mereka menentukan service charge tidak lebih dari $1.8 per tiket. Ketika Tiketmaster mengetahui ini, maka Ticketmaster sudah bersiap-siap untuk mengakomodasi permintaan ini dan membertahukan ini melalui promoter. Ticketmaster setuju untuk menyediakan layanan tiket dengan service charge sebesar $2.25 sampai $2.5. Sebenernya kesepakatan bisa saja dicapai kalau Pearl Jam mau menurunkan harga tiket mereka menjadi $17.5 sampai $17.75. Dengan begitu fans tidak akan membayar tiket lebih dari $20. Tapi apa balasan Pearl Jam? mereka mengatakan kalau syarat dari mereka tidak bisa ditawar. Kami menyerahkan kepada Komite, berdasarkan fakta-fakta yang ada untuk menentukan siapakah yang tidak masuk akal atau mencoba untuk memaksakan kehendaknya. Pearl Jam memutuskan untuk tidak melakukan tur. Alasan sebenarnya dibalik keputusan itu, hanya mereka sendiri yang tahu. Namun pastinya, mereka mencoba menimpakan kesalahan itu pada Ticketmaster."

Sebenarnya, membayar service charge kepada Ticketmaster ini bisa dihindari oleh penggemar dengan cara membeli langsung tiket di tiket box yang ada di venue. Namun, fans yang menggunakan cara ini akan selalu gigit jari karena jarang sekali venue yang membuka tiket box pada hari pertunjukan karena dipastikan tiket sudah habis oleh pemesan yang membeli tiket melalui outlet-outlet Ticketmaster dan pemesanan melalui telepon.

Pearl Jam bisa saja melakukan konser di mana saja, dengan venue dan promoter yang tidak mempunyai kontrak dengan Ticketmaster. itu juga benar. Namun pada kenyataannya ini adalah mimpi buruk. Karena hampir seluruh venue yang besar, keamanannya terjamin, lokasinya bagus, gedung-gedung yang mempunyai akustik yang bagus mempunyai kontrak ekslisif dengan Ticketmaster. Dengan mengadakan konser "dimana saja" akan beresiko mengorbankan reputasi karena mengadakan konser di venue yang belum teruji cocok untuk konser rock disebabkan manajemen yang buruk, keamanan yang tidak terjamin, lokasi yang buruk, dan lain-lain. Dan menemukan tempat yang bagus tanpa kontrak ekslusif dengan Ticketmaster adalah sesuatu yang mustahil.


Kelly Curtis berkata, "Kesalahpahaman terbesar adalah bahwa kita menuntut Ticketmaster atau kita mengadukan hal tersebut ke Departemen Kehakiman, kedua hal tersebut tidak terjadi. Kami mengeluh tentang Ticketmaster karena mereka mencharge sepuluh sampai deuapuluh persen harga tiket dan anehnya mereka tidak mau memisahkan harga sehingga setidaknya para penggemar tahu berapa harga tiket yang sebenarnya. Ticketmaster itu sangat berkuasa dan pasti mereka berfikir kami adalah anak kecil yang sok pintar. Departemen Kehakiman terlibat mungkin karena publikasi media yang sangat ramai. Dengar pendapat di kongres itu saya kira - dan saya yakin Gossard berfikir sama- hanya lelucon saja. Setelahnya saya merenung dan menyadari kalau semua itu buang-buang waktu saja.

Aksi Pearl Jam ini banyak menuai dukungan beberapa dari mereka secara terang-terangan bicara di media dan mengeluarkan pernyataan negatif tentang Ticketmaster. Setelah dengar pendapat di kongres berlalu dan musim panas datang, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tidak melibatkan Ticketmaster dalam tur mereka. Namun Pearl Jam menjalani ucapannya.

- Written with the source from Kim Neely's Five Against One: the Pearl Jam History and Pearl Jam Twenty
- Illustration picture from cosmozone.fr

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?