PJ20: Temple of the Dog Part 3

Temple of the Dog
“Jadi waktu itu kami sedang latihan, saya menunjukan lagu itu kepada yang lain, dan sampailah di bagian reff” Chriss Cornell mencoba mengingat, “Ada bagian dengan suara rendah dan ada bagian dengan suara tinggi. Saya menyanyikan bagian tinggi dan rendah sendiri. Dengan memakai overdub pasti semuanya beres. Jadi saya mulai melakukannya: ‘Going hungry, going hungry, going hungry’ tapi rupanya hasilnya tidak begitu bagus. Bagian suara tinggi sedikit sulit namun saya tetap melakukannya. Tiba-tiba saya merasakan kehadiran seseorang di balik bahu saya. Di sana cuma ada satu mikrofon dan pas bagian reff, dia menyondongkan bahunya ke arah mikrofon, sepertinya ingin memberitahu kalau dia punya ide. Saya tidak mengenalnya walaupun kami pernah saling menyapa sebelumnya. Kelihatannya dia bukan bermaksud mengganggu atau apa. Jelas sekali kalau dia merasa kasihan kepada saya dan ingin mengeluarkan saya dari kesulitan. Jadi dia mulai bernyanyi ‘going hungry, going hungry, going hungry , yeaah’ Saya menyanyikan bagian suara tinggi lalu dia mulai menyanyi lagi. Sekonyong-konyong muncul ide bagus di kepala saya dan saya fikir, ‘Suara rendahnya keren juga. Bagian suara rendah yang saya nyanyikan tidak begitu pas.’ Lalu saya berfikir, ‘Bagaimana kalau saya menyanyikan bait pertama lagu sendiri hanya ditemani gitar kemudian instrumen lain masuk dan dia menyanyikan bait kedua. Bait yang sama dengan bait pertama tapi dinyanyikan oleh orang yang berbeda. Bukankah itu akan terdengar seperti lagu sungguhan dengan dua bait lagu yang berbeda?’
“Saya masih membayangkan kalau ‘itu akan jadi lagu ke-delapan yang lebih bagus.’ Saya harus menulisnya dan kami langsung mencobanya. Semuanya langsung berubah dari ‘lagu yang lumayan.’ menjadi ‘lagu ini keren sekali.’ Masuknya Eddie di lagu itu merubah perasaan lagunya, mendadak menjadi lebih punya jiwa. Menjadi lebih bermakna buat saya. Saya fikir itu terjadi karena orang lain yang menyanyikannya.
“Saya kira itulah momen di mana saya merasa telah mengenalnya” Ujar Cornell. “Saya di sini mencoba membuat sebuah album yang bagus dan tidak memalukan, dan dia membuat nya terdengar lebih baik dibandingkan jika saya melakukannya sendiri.”    
Vedder berkata kalau dia melihat Cornell mencoba menyanyikan dua bagian itu sendiri dan di tengah lagu dia masuk. Cornell cukup puas dengan hasilnya dan itu bagus sekali. Kenyataan bahwa dia meminta saya untuk ikut bernyanyi dalam album itu adalah sesuatu yang baik. Maksud saya, itu adalah pertama kalinya saya rekaman beneran. Jadi lagu itu menjadi salah satu dari lagu favorit saya, salah satu yang paling berarti. Itu adalah kali pertama mendengarkan rekaman suara saya sendiri dan itu lagu yang sangat keren.”
“Dia menyanyikan harmoninya dengan sangat baik” Ujar Gossard. “Backing vokal terbaik, Eddie Vedder. Secara harfiah lagu itu adalah hal yang paling enak terdengar dari semua proyek yang pernah kita kerjakan bersama. Dan sampai hari ini, saat itu adalah salah satu momen dimana keajaiban terjadi. Kemampuan menulis lagu Chris Cornell, kemampuan vokalnya, liriknya dan Matt Cameron, membuat kami merasa di awang-awang ketika mereka mengajak kami menjadi bagian itu semua. Chris sudah mengajak kami bergabung untuk memainkan lagunya dan dia luar biasa murah hati ketika dia juga mengajak Ed. Dia seperti berkata. ‘Saya bukan hanya ingin membantu kalian dengan album ini dan semua lagu yang saya tulis, tapi saya juga akan membuat lirik dari lagu-lagu yang kalian tulis, Stone dan Jeff, bahkan saya akan meminta vokalis baru kalian, yang bahkan saya belum pernah mendengar suaranya, untuk ikut menyanyikannya.’”
Cameron menambahkan, “Eddie bukan hanya masuk dalam saat yang tepat, namun dia juga cocok dengan gaya Chris dan Stone di studio. Dia juga memahami apa yang sedang kami buat- sesuatu yang sulit bagi orang luar pada saat itu untuk bisa nyambung.”
Walaupun saat itu tidak menyadarinya, persinggungan Vedder dengan Temple of the Dog dimulai pada bulan September ketika dia menerima sebuah kaset instrumen yang dimainkan Gossard-Ament-McCready-Cameron dari temannya, Jack Iron. Dia merekam lirik dan melodi vokalnya ke dalam kaset itu dan merubah “Troubled Times”-nya Gossard menjadi sebuah lagu berjudul “Footsteps”. Tanpa menyadari keberadaan Vedder, Cornell juga menuliskan lirik dan melodi lagu yang sama sekali berbeda ke dalam lagu yang sama dan memberi judul “Times of Trouble” yang kemudian masuk ke dalam album Temple of The Dog. Dengan tujuan untuk tidak membuat penggemar bingung, Pearl Jam tidak mengeluarkan “Footsteps” sampai musim semi tahun 1992.
Selanjutnya Chris Cornell menjadi pendamping sekaligus teman Eddie Vedder dalam mengenal lebih jauh latar musik Seattle. Malam pertama mereka nongkrong, Eddie dan temannya Eric berakhir di sebuah taman kecil mengejar anjing di kubangan ditemani selusin bir termurah merk Scmidth. Mereka berpesta. “Saya berkata dalam hati ‘Wow, ini rupanya yang mereka lakukan untuk bersenang-senang di sini. Mengejar-ngejar anjing di kubangan dan minum bir murah? Ini sangat asyik.’ Itu berlangsung selama bertahun-tahun.”
“Kadangkala” Ujar Cameron. “ timbul pertanyaan apakah Chris merasakan kehampaan setelah Andy meninggal. Andy sebelumnya menjadi teman diskusinya dan saling bertukar ide dalam menulis lagu. Saya selalu penasaran akan hal itu. Dia benar-benar menyambut Eddie dengan baik ketika pertama kali Eddie datang. Saya juga tahu kalau Eddie pasti merasa kalau Chris menjadi mentor nya dalam bermusik di saat-saat awal. Saya kira itu memberinya kepercayaan diri untuk bisa menghadapi tantangan selanjutnya dalam bermusik. Tanpa disadari, Chris Cornell punya peranan yang lebih besar bagi lahirnya Ten dan bagaimana Pearl Jam memulai semuanya.”
Temple of the Dog hanya sempat memainkan satu konser resmi pada tanggal 13 November 1990 di Off Ramp, Seattle dan dengan mulus meluncurkan sebuah album self-titled di akhir tahun. Setelah musim semi 1991, para anggota Temple of the Dog beberapa kali memainkan lagu-lagu Temple of the Dogs di konser masing-masing sampai akhir tahun. Namun, di akhir tahun 1992, Pearl Jam dan Soundgarden menjadi salah satu band rock yang paling ngetop di seantero jagat. Dan meskipun “Hunger Strike” kemudian menjadi hit besar di radio-radio, nama Temple of the Dog berangsur-angsur meredup.
Walaupun begitu, Temple of the Dong berperan begitu besar bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Ament yakin kalau album Temple of the Dog tetap merupakan “Satu dari hal terbaik yang pernah mereka buat”
“Dari sebuah tragedi terlahir sesuatu yang sangat berarti dan memberi pengaruh yang sangat positif dalam hidupku. Sesuatu yang tidak mungkin ada kalau kami tidak mempunyai rasa saling percaya dan persahabatan.” Ujar Cornell. “Saya dengan Matt berasal dari satu band dan dia selalu menjadi andalan saya dalam memainkan drum. Jika saya tidak pernah pernah bermain bersama Stone dan Jeff, saya tidak akan pernah bertemu dengan McCready, tidak juga dengan Eddie. Jadi itu takkan pernah mungkin terjadi.”
“Album itu jadi penanda penting bagaimana sound Soundgarden dan Pearl Jam bisa menyatu dan menemukan sound nya sendiri,” Ujar Gossard. “Pearl Jam tidak terdengar lebih berat dan Soundgarden erdengar labih groovy dan lebih santai.”
Photos are taken from Pearl Jam Twenty Book/Words are the translation of Pearl Jam Twenty Book/ copyrights belong to the author of the book. 

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?