Posts

Showing posts from November, 2014

Para Drummer yang Menjadikan Pearl Jam Mutiara: Dave Abbruzzese

Image
Dave Abbruzzese lahir di kota Stanford, Connecticut, 17 Mei 1968. Sekarang 46 tahun. Dave kecil sangat gemar memukul segala perabotan di rumahnya, sehingga umur 7 tahun orang tuanya menyerah dan membelikannya sebuah drum set yang layak. Masa-masa SMA Dave dihabiskan dengan bermain di marching band dan menghisap ganja. Menurutnya, sekolah itu membosankan dan tidak mengajarinya sesuatu yang berharga. Dave dikeluarkan dari band SMA karena membuat kesal seorang guru, sejak saat itu, sekolah tidak lagi mempunyai daya tarik baginya. Setelah pembicaraan yang panjang dengan orang tuanya, Dave sampai pada satu kesimpulan, dia ingin drop out.
Permainan drum Dave dibentuk secara otodidak dengan mendengarkan Led Zeppelin. Dave bermain dengan orang-orang yang jauh lebih berumur darinya. Ketika dia mendengar permainan yang membuatnya terpesona, Dave akan mendengarkan musik itu terus menerus dan mempelajarinya hingga bisa. Seiring berjalannya waktu, Dave melahap semua katalog Zeppelin. Menurutnya, ji…

Kisah di Balik “Vitalogy”

Image
Untuk sebagian fans Pearl Jam, “Vitalogy” mungkin bukanlah album favorit mereka. Faktanya, “Vitalogy” adalah album kedua (setelah “Vs.”) yang memegang rekor sebagai album Pearl Jam dengan penjualan tercepat. Di Amerika Serikat saja, album ini pada minggu pertamanya terjual sebanyak 877.000 keping dan berhasil duduk di puncak “Bilboard 200”  berbulan-bulan lamanya!
“Vitalogy” dirilis sekitar setahun setelah “Vs.”. Sebenarnya, saat “Vs.” dirilis pun, Pearl Jam sudah punya cukup bahan untuk membuat “Vitalogy”. Beberapa lagu seperti “Whipping”, “Last Exit”, dan “Tremor Christ” malah sudah dimainkan secara live dalam tur “Vs.”.
Album ini menandai lahirnya Eddie Vedder yang punya kemampuan menulis lagu handal. Dia tidak lagi melulu sebagai sosok vokalis dengan kepribadian yang unik belaka. Jumlah lagu yang ditulisnya juga cukup signifikan.
“Spin The Black Circle”, single pertama dari album ini yang nantinya diganjar Grammy, lahir dari ketidaksengajaan saat Eddie memutar kaset demo berisi r…

Saya Ada di Mana?

Image
Membaca buku "Menyaksikan grunge dengan mata, telinga dan jiwa- Saya Ada di Sana: catatan grunge lokal" karya Eko Prabowo membawa saya ke masa lalu, setidaknya mundur 6 tahun lalu: sebuah acara tribute untuk Pearl Jam yang diselenggarakan Otomotion di Cafe Planet Hollywood. 
Saya datang bersama seorang teman yang sama sekali tidak mengerti apa itu Pearl Jam. Dia berakhir di meja belakang cafe dan sesekali keluar mencari udara segar karena di dalam terlalu penuh dengan asap rokok. Waktu itu saya sudah menjadi anggota milis Pearl Jam Indonesia, namun baru kali itu saya datang ke acara tribute Pearl Jam, saya juga sama sekali tidak mengenal anggota milis lainnya. 
Sekumpulan yang kurang lebih seusia dan beberapa diantaranya lebih tua memang duduk berkumpul dan bercengkrama layaknya teman-teman yang sudah dekat. Saya lihat mereka juga melihat-lihat beberapa koleksi buku dan cd. Saya tidak berani mendekat, apalagi menyapa. Saya hanya menikmati panggung yang malam itu menyuguhkan la…