PJ20: Jeff Ament


PJ20 : JEFF AMENT

Lahir: 10 Maret 1963 di Havre, Montana. Ayahnya adalah seorang tukang cukur yang pernah 15 tahun menjadi Wali Kota Big Sandy Montana. Ibunya bisa bermain piano dan memperkenalkan Ament kepada piringan hitam, buku-buku dan gambar-menggambar. Setelah tingkat dua, Ament drop out dari Universitas Montana pada tahun 1983. Lalu dia dan teman-teman band Deranged Diction-nya pindah ke Seattle. Ament bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi kecil Raison d’Etre di daerah Belltown dan menabung untuk bayaran sekolah seni. Tak berapa lama, band Deranged Diction bubar dan dia kemudian bergabung dengan Gossard di band Green River. Ketika Green River bubar di tahun 1987, bersama Gossard, Ament membuat band baru yang diberi nama Mother Love Bone. Namun, pada bulan Maret 1990, ketika mereka baru saja mau mempersiapkan album pertama, Andrew Wood, sang vokalis meninggalkan mereka karena overdosis.


Apa alat musik pertama yang kamu mainkan? Kapan dan dimana kamu mulai bermain?


Saya les piano pada Mrs.Giebel di Big Sandy, Montana dari kelas satu sampai kelas enam SD. Saya memotong rumput, menyapu dedaunan, membersihkan salju di rumahnya untuk meringankan biaya les. Dari kelas lima SD sampai tingkat dua Sekolah Menengah Atas, saya bermain snare drum dan perkusi di band sekolah dan mengikuti kelompok paduan suara.  Saya lupa segalanya ketika mulai mendengar Ramones dan membeli bass yang sama dengan yang dimainkan Dee Dee.


Apa yang menginspirasi kamu sehingga menjadi pemusik?


Pada mulanya saya terpengaruh Ted Nugent, Aerosmith dan Kiss, sampai saya mendengar Ramones, Devo, The Clash, dan semua band hardcore di California. Saya tidak menyangka kalau saya akan jadi pemusik.


Siapa atau apa yang mempengaruhi masa kecil kamu dalam bermusik?


Ibu saya menyetel lagu  “Proud Mary” , Saya menyanyikan lagu “The Sound of Silence” dengan teman teman SD, dan menonton Jackson 5 di acara American Bandstand, paman saya Pat, berdinas sebagai angkatan udara ke Jerman dan pulang membawa piringan hitam rock dan sebuah stereo yang bagus. Rambutnya panjang dan menggantung tapestry di kamarnya. Saya ingat dia menyimpan Wine dikamarnya  dan ditaruh dalam sebuah kaitan besi, sesekali saya diam-diam menimumnya. Dia akan memakaikan saya headphone dan memainkan lagu-lagu seperti Araxas nya Santana  atau Cream. Semuanya membuat saya takjub. Benar-benar dunia yang baru bagi saya yang  pada waktu itu berumur tujuh tahun.


Apakah konser pertama dan  konser yang paling berpengaruh bagi kamu?


Konser yang pertama saya lihat adalah konser Equinox Tour nya Styx pada tahun 1975. Mereka main di Havre Montana di sebuah tempat bernama NMC Harmony. Setelah lama, saya baru pergi ke konser lagi tahun 1979, itu adalah konser Van Halen di Great Falls. Konser yang paling berpengarung buat saya adalah konser X, the Clash dan The Who ketika pertama kali saya mengunjungi Seattle dengan teman-teman pada tahun 1982.  Tahun depannya saya pindah ke Seattle dan saya banyak menonton Ramones, Black Flag, Bad Brains dan band–band hardcore lain yang bermain di Metropolis. Itulah yang paling mempengaruhi kehidupan bermusik saya.


Apa kenangan terbaik kamu ketika bermain dengan band-band pertama kamu?


Main dengan sound system yang besar adalah pengalaman yang keren. Husker Du membayar kita 20 Dollar dan selinting ganja untuk membuka konser mereka ketika kita diusir promoter. Awal-awal, kita main hanya untuk keren-kerenan. Sekaran juga masih, heheh.

 
Photos are taken from Pearl Jam Twenty Book/Words are the translation of Pearl Jam Twenty Book/ copyrights belong to the author of the book.
Kembali ke daftar isi

Comments

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?