Satu Hari di Kamakura : Tsurugaoka Hachimangu

Setelah semingguan membombardir kami dengan materi-materi dan presentasi, JICA memberikan kesempatan untuk berjalan-jalan dalam suatu guided tour di akhir pekan ke sebuah kota tua bernama Kamakura. Setelah beberapa orang siap, kami segera bergegas menuju stasiun kereta Yoyogi-Uehara yang berjarak sekitar 15 menit berjalan dari asrama.

Setelah perjalanan kurang lebih satu jam dengan menumpang Odakyu Line ke Fujusawa station kemudian disambung dengan menumpang kereta Enoden Line. Kereta Enoden line ini melayani daerah sekitar Kamakura.

Ada satu hal yang istimewa, Kereta penumpang Enoden line ini berwarna hijau tua khas gerbong Jepang. Perjalanan dengan Enoden Line ini terasa istimewa karena perjalanan kerap kali melalui jalan aspal dan membelah kota, mirip berjalan-jalan menaiki tram.


Di dalam kereta Enodone, hampir semua penumpang merupakan turis yang hendak berkunjung ke Kamakura. Di perjalanan saya sempat mengobrol dengan seorang Jepang yang tidak bicara bahasa Inggris dengan menggunakan kamus di handphone nya. 

Setelah sampai di kamakura, kita menuju ke tempat perjanjian bertemu dengan guide relawan dari KSGG kita bertemu di tower jam tidak jauh dari stasiun Kamakura. Tidak seperti di Tokyo, saya merasakan Jepang lebih disini, Jepang dari abad lama.

Kamakura merupakan kota tua pantai yang berada di Kanagawa Perfecture diselatan tokyo. Kamakura pernah menjadi pusat pemerintahan pada tahun 1192 ketika Minamoto Yoritomo memilihnya menjadi ibukota. Selama lebih dari satu abad kamakura mendadi pusat pemerintahan Jepang, sebelum kemudian pindah ke Kyoto pada pemerintahan Muromachi.

Kamakura merupakan salah satu tujuan wisata yang ramai, dan disebut sebagai Kyoto di Jepang Timur. Terkenal sebagai kota kecil yang dipenuhi temple dan Shrines, selain itu kamakura juga merupakan kota pantai yang menjadi tujuan wisata pantai di musim panas.

Di tempat pertemuan tersebut kami mendaftar ulang dan membentuk kelompok sesuai dengan pembagian guide yang akan mengantar. Relawan guide ini kebanyakan merupakan pada manula yang masih enerjik. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki mencari makan siang setelah sebelumnya diadakan pembahasan yang panjang. Soal makan siang ini, adalah hal yang sangat penting di Jepang. Makan siang adalah suatu hal yang besar, maka kami membahas untuk makan siang dimana, apakah di restoran atau membeli bungkusan bento atau apapun.

Saya dan beberapa teman memutuskan membeli KFC saja, orang indonesia lebih suka ayam dan kentang ketimbang bento jepang yang belum tentu rasanya. Setelah semua memperoleh makan siangnya, perjalanan dimulai ke kuil Tsurugaoka Hachimangu. Kuil ini merupakan kuil paling penting di Kamakura. Perjalanan ke kuil akan melelui jalan selebar 3 meter dengan melewati Torii yang sangat besar dan penjaga berupa patung singa di kiri kanan.

Jalan kecil menuju shrine yang menurut guide kami dibiarkan begitu saja keadaanya sejak jaman keluarga Minamoto. Jalan Tanah padat penuh kerikil kecil itu diapit pohon-pohon sakura yang apabila saya berjalan sebulan sebelum ini maka akan terlihat sangat indah. 

musim semi
 Berhubung waktu itu di awal musim panas maka jalan itu cuma seperti gambar dibawah ini:

musin panas
Setelah kurang lebih 400 meter menyusuri jalan ini, kita akan sampai pada pelataran luar kuil. Kuil Tsurugaoka Hachimangu sepertinya menjadi tempat favorit pernikahan juga karena beberapa kali kita bertemu dengan pengantin tradisional Jepang dengan pakaian tradisionalnya dan menjadi sasaran permintaan foto turis tidak tahu malu seperti saya.

bertemu pengantin dengan pakaian tradisional
Kuil ini dikelilingi oleh kolam dan ada beberapa jembatan yang mungkin karena sudah tua, tidak boleh lagi dilewati. 

Sebelum masuk ke pelataran kuil, kita sebaiknya mampir dulu ke tempat cuci tangan, mirip berwudlu bagi orang islam, fungsinya untuk bersuci. Dipelataran kuil terdapat pondok kecil dengan panggung serba guna yang pada saat itu sedang dilakukan upacara pernikahan tradisional jepang. 

tumpukan gentong sake
Disebelah kiri jauh terdapat tumpukan tempat sake yang menurut pemandu kami tidak ada hubungnnya dengan kuil ini, hanya saja, upacara-upacara pernikahan dan lain-lain di panggung tadi memang banyak menggunakan sake pada saat ritualnya, sehingga menurut guide kami pula, tumpukan itu dijadikan tempat promosi bagi produsen sake untuk memajang mereknya.

siap-siap manjat

Tsurugaoka Hachimangu berada diatas sehingga kita musti menaiki tangga. Setelah menaiki tangga maka kita akan masuk kedalam kuil dan menemui tempat persembahan utama. Pada dasarnya, kuil ini merupakan tempat ibadah, jadi saran saya jika anda berkesempatan mengunjungi kuil ini, sebaiknya berlaku sopan dengan menaati peraturan yang ada. Biasanya terdapat tanda-tanda yang ditulis dengan jelas. Peraturan-peraturan itu diantaranya, dilarang berisik dan dilarang memotret.

Didalam kuil terdapat musium, toko untuk membeli Ema dan ramalan. Menurut guide kami, ema merupakan papan untuk menulis doa dan harapan, biasanya bergambar kuda. Kenapa kuda? karena pada awalnya, biasanya orang yang berdoa memohon ke kuil datang membawa kuda untuk persembahannya, namun sekarang sangat sulit untuk bisa membawa kuda untuk persembahan. Kuda tersebut diganti dengan Ema seharga sekitar 200- 500 yen untuk menulis harapan dan doa. 

Di dalam kuil juga terdapat Omikuji untuk menggantung ramalan, kertas ramalan itu kita bisa beli di kios kuil dengan membayar sekitar 200 yen. bila seorang mengambil kertas ramalan dan mendapati nasibnya tidak terlalu baik, maka dia akan menggantungkan kertas ramalan itu pada Omikuji dengan harapan ramalan buruk tersebut tidak terjadi.

Setelah puas mengelilingi kuil dan sudah waktunya makan siang, kami kemudian mencari tempat untuk membuka bungkusan makan siang yang sebelumnya telah disiapkan. Untuk makan siang saja kami dibawa ke tempat tertentu disekitar kuil tempat biasanya pengunjung makan siang. Dan kami tahu alasan kenapa kita musti mempersiapkan makan siang sendiri. Di sini tidak ada yang menjual makanan. Tidak ada asongan yang berseliweran menawarkan minum dan makanan. Setelah menghabiskan makan siang saya musti merapihkan bungkus bekas makanan tadi dan memasukannya ke dalam tas untuk dibuang di suatu tempat yang terdapat tempat sampahnya, dikarenakan disekitar sana tidak terdapat tempat sampah, tetapi anehnya tempat itu sangat bersih.

Perjalanan mengunjungi kuil ini dilanjutkan dengan berbelanja di sebuah jalan kecil "Komachi Dori" yang penuh dengan toko suvenir di kanan kirinya. Jenis suvenirnya bermacam-macam, dari yang buatan asli Jepang sampai yang buatan China juga banyak, beberapa yang menarik adalah lukisan kain semacam batik jepang, macam-macam sumpit, permen dan tidak lupa payung. Jalan ini sangat ramai karena sebagian besar guide akan menunjukan jalan ini untuk berbelanja. Jika tidak ingin bangkrut, tahan diri anda, simpan beberapa yen, barangkali ditempat lain banyak suvenir yang lebih menarik.

Setelah berbelanja kami melanjutkan perjalanan menuju stasiun. Di stasiun banyak tempat sampah jadi ini kesempatan saya membuang sampah bekas makan siang tadi.Dari stasiun kami akan melanjutkan perjalanan ke tempat menarik lainnya yaitu Kamakura Daibutsu. Apa itu?, baca lanjutannya di sini ya.

Popular posts from this blog

Karya Besar Vincent van Gogh

11 Lagu Wajib Anak Tongkrongan Depan Gang Tahun 90'an

Pearl Jam Vs Nirvana ?