Posts

Featured Post

Minimalist

Akhir pekan kemarin saya lalui dengan cukup manis. Diawali dengan kunjungan ke perpustakaan daerah dan disudahi dengan pernyataan cinta istri saya melalui ubi jalar goreng dan beberapa gelas air jahe. Saya dan anak sulung saya sepakat untuk mengunjungi perpustakaan daerah di hari Sabtu. Kami hanya pergi berdua. Istri saya lebih suka membaca resep masakan di cookpad dan langsung mempraktekkannya di dapur sementara anak kedua saya cepat sekali merasa bosan. Berkali-kali kenikmatan kami membaca di toko buku terputus dengan berbagai macam alasan. Jadi, untuk menjamin keberlangsungan rencana kami membaca, kami hanya pergi berdua saja. Perpustakaan daerah hanya berjarak sekitar dua puluh menit perjalanan mengendarai sepeda motor dengan santai. Terletak di pusat kota, perpustakaan ini sering menjadi tujuan wisata anak-anak sekolah dari seluruh penjuru Riau. Mereka datang berbondong-bondong menggunakan bus. Sesampainya di sana kami langsung naik lift menuju bagian Fiksi karena anak saya ing…

Meraih dan Merasakan Berkat

Sejak bertugas di Pekanbaru, mengantar anak sekolah adalah hal yang sekarang rutin saya lakukan setiap hari. Hal yang istimewa. Kenapa begitu? Karena saya waktu tinggal di Depok dan ngantor di Jakarta, boro-boro nganterin anak ke sekolah tiap hari, yang ada sebelum anak bangun saya sudah berlari-lari mengejar kereta komuter atau mengarungi kemacetan tol Jagorawi. Solusinya, urusan antar-mengantar anak sekolah ini saya serahkan pada mobil antar jemput sekolah. Sekitar jam setengah tujuh pagi saya mengantar anak saya yang kelas 4 SD ke sekolahnya karena jam masuk sekolahnya adalah jam tujuh pagi. Perjalanan dari kontrakan ke sekolah sekitar sepuluh menit menggunakan honda (saya menggunakan huruf kecil karena di Pekanbaru semua sepeda motor baik yang merek Honda, Yamaha, Suzuki atau yang lainnya disebut honda). Dalam perjalanan singkat itu ada hal yang sangat saya sukai yaitu menemui kabut. Kabut ya, bukan kabut asap. Tidak turun setiap hari, namun jika kebetulan sedang turun kabut, sep…

Anak Saleh Bapak Saleh

----- Robbigfirli wa liwalidayya warhamhuma kamaa robbayanii shoghiro. Ya Allah ampunilah dosaku serta dosa kedua orang tuaku dan sayangilah mereka seperti mereka menyanyangiku sewaktu kecil. Robbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qinaa adzabannaar. Amin.--- Sejak beberapa minggu lalu, begitu selesai salat, anak kedua saya langsung menuju ke pangkuan saya untuk merapalkan doa-doa di atas sambil mengangkat tangannya. Di awal-awal, pada saat mengucapkan "Robbighfirli.. " sering kali lanjutannya sering tertukar dengan doa duduk diantara dua sujud, "Robbighfirli warhamni" kemudian dia sadar kalau doanya keliru dan memulainya dari awal dengan doa yang benar. Dia tidak akan beranjak sebelum selesai merapalkan doa-doa di atas. Entah jurus apa yang dipakai gurunya di sekolah, anak kedua saya yang tadinya susah sekali diajak salat ke musala sekarang dengan sukarela pergi ke musala. Bahkan dia pernah menangis karena terlewat waktu salat subuh. Saya senga…

GORO

Rebba sipatokkong, mali siparappé, sirui ménré tessirui nok, malilu sipakainge, maingeppi mupaja. Artinya: “rebah saling menegakkan, hanyut saling mendamparkan, saling menarik ke atas dan tidak saling menekan ke bawah, terlupa saling mengingatkan, nanti sadar atau tertolong barulah berhenti." Saya pertama kali membaca pepatah Bugis itu di layar sebuah teks berjalan di Fort Rotterdam, Makassar. Begitu meninggalkan Fort Rotterdam memang saya sama sekali lupa dengan teks pepatah itu, namun saya ingat sedikit artinya. Internet memungkinkan saya menemukan teks pepatah itu, lengkap dengan artinya. Pepatah tersebut baik sekali untuk dibaca dan direnungi maknanya di zaman mulai memudarnya rasa peduli karena semua orang sibuk dengan urusannya sendiri. Termasuk saya. Boro-boro ngurusin orang lain, ngurusin diri sendiri aja udah susah, apalagi berat saya sekarang lebih dari 85 kg. #eh Saya sebenarnya bukan mau ngebahas pepatah di atas, belum ketemu cerita yang pas. Saya cuma mau cerita got…

Sarapan, Makan Siang dan Makan Malam

Hari Minggu pekan kemarin, pagi-pagi saya sudah mendapat tugas penting: membeli sarapan. Anak saya memesan bubur dan batagor Bandung, sedangkan istri saya minta lontong Medan. Wah jauh-jauh bener asal makanannya. Tapi saya OK kan saja karena semua makanan tersebut ada yang jual di sekitaran komplek, tidak perlu beli jauh jauh beli ke kota asalnya. Saya tinggal di salah satu sudut kota Pekanbaru, bukan di pusat kota namun merupakan daerah pemukiman penduduk. Yang pasti, dekat dengan kantor tempat saya bekerja. Karena banyaknya komplek perumahan, beberapa ruas jalan menjadi sangat ramai dan dipenuhi dengan toko-toko yang menyediakan segala macam kebutuhan. Di sekitaran komplek saya, keramaian berpusat di empat ruas jalan yang berujung di simpang Lobak. Nama masin-masing jalannya adalah Delima, Lobak, Melati Indah dan Srikandi. Pekanbaru adalah kota yang majemuk, termasuk dalam urusan kuliner. Di daerah sekitar komplek saya saja, kuliner yang ditawarkan cukup beraneka ragam. Uniknya beb…

Yang Muda Berhaji

Image
Membaca buku Labbaik: Yang Muda Berhaji karya teman saya Helman Taofani sungguh sangat mengasyikkan. Kisah perjalanan berhaji digambarkan lewat cerita-cerita yang sarat akan pembelajaran dan perenungan. Hal ini menjadi istimewa karena disampaikan oleh "orang biasa", bukan oleh seseorang yang dikenal sebagai ustad atau kiyai. Haji adalah kewajiban setiap muslim, dengan syarat dan ketentuan berlaku. Hal ini kadang justru membuat sebagian orang menunda-nunda kemampuannya untuk berhaji dengan segala macam alasan yang bisa dirangkum dalam dua kata: belum siap. Menarik sekali membaca Penulis bercerita bahwa kesiapannya memenuhi panggilan berhaji justru datang beberapa hari sebelum keberangkatan. Di sebuah bagian buku, Penulis bercerita tentang bagaimana dia mendapatkan jawaban dari Tuhan atas berbagai pertanyaan hidup. Tuhan berbicara kepadanya, di rumah-Nya. Saya jadi teringat ketika pertama kali saya melihat Kabah, tubuh saya bergetar, dada bergemuruh, air mata mengalir deras d…

Memahami Syukur

Bagaimana kita memahami syukur? Dalam ringkasan Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali disebutkan bahwa syukur adalah menggunakan nikmat pada jalan yang seharusnya. Contohnya, seorang raja yang mengirimkan kuda kepada budaknya agar ia bisa bergegas datang menemuinya. Jika ia menunggangi kuda itu dan bergegas menemui sang raja, berarti ia menggunakan nikmat dengan semestinya. Namun, jika ia menungganginya untuk menjauhi raja, berarti ia bodoh dan mengingkari nikmat. Bagaimana dengan kita, hamba Allah yang bergantung pada nikmat dan karunia-Nya, sudahkah nikmat dan karunia yang Allah berikan membuat kita semakin mendekati-Nya? atau malah menjauhi-Nya?
July 28, 2017