Posts

Featured Post

"Next stop, alam kubur,"

Remember me, though I have to say goodbye / Remember me, don't let it make you cry / For even if I'm far away, I hold you in my heart / I sing a secret song to you, each night we are apart / ... Jika Tuan dan Puan sudah menonton film yang sedang diputar di jaringan bioskop terbesar di Indonesia yang berjudul Coco tentu masih ingat dengan penggalan lirik lagu di atas yang banyak dinyanyikan di sepanjang film. Jika belum, silalah menonton karena saya tidak hendak bercerita tentang jalan cerita film itu. Saya tertarik dengan "Dia de los Muertos" - Harinya Orang Mati, sebuah tradisi Mexico untuk memperingati atau mengenang anggota keluarga yang sudah tiada yang melatari film itu. Pada hari itu anggota keluarga yang sudah meninggal diyakini datang ke rumah-rumah keluarga mereka yang masih hidup. Untuk menyambut kunjungan keluarga yang sudah meninggal dibuatlah semacam altar yang untuk memasang foto, lilin, makanan, minuman dan mungkin sebuah benda kesukaan mereka. Altar …

Muslim Bersaudara

Zaman saya kecil, saya hanya mengenal dua jenis umat islam: yang salat subuhnya pake qunut dan yang tidak. Bisa juga berdasarkan rakaat tarawih: yang tarawihnya sebelas rakaat dan dua puluh tiga rakaat. Kampung saya adalah jenis yang pakai qunut kalau salat subuh dan tarawihnya dua puluh tiga rakaat sedangkan komplek perumnas di sekitar kampung saya adalah yang tidak pakai qunut dan salat tarawihnya sebelas rakaat. Sesimple itu, oh iya, sebagai tambahan, yang salat subuhnya pake qunut itu biasanya kalau ada kerabat yang meninggal pake tahlilan di rumahnya dan yang nggak pake qunut itu biasanya sepi-sepi saja. Yang pasti, bagaimanapun beda keduanya, masih sama-sama umat islam dan sama-sama salat. Balik ke soal qunut, saya yang terbiasa qunut sejak kecil sampai sekitar usia sekolah menengah, ketika kuliah sudah jarang qunut lagi. Di lingkungan kampus hampir semua masjid tidak pakai qunut. Saya sih tidak pilih-pilih masjid. Mau qunut boleh, nggak qunut juga nggak maksa. Jadi begini, kal…

Menyalahkan Setan

Akhir pekan kemarin saya salat isya di masjid Al-Falah jalan Sumatera. Saya sampai dua menit sebelum iqamat, sehingga masih sempat salat sunah qabliyah dua rakaat. Ketika pengatur waktu iqamat berbunyi, jamaah mulai berdiri, mengatur, merapihkan dan meluruskan saf. Muazin menghampiri mikrofon di sebelah mimbar. Sebelum iqamat sang muazin memberikan pengumuman, mengingatkan jamaah untuk menaruh tas atau barang berharganya di depan saf atau di tempat dalam jangkauan pengawasan. Muazin juga tidak lupa mengingatkan jamaah untuk mematikan atau minimal mengatur gawainya menjadi senyap. Setelah selesai memberikan maklumat, iqamat pun dilantunkan sang muazin. Salat dimulai setelah imam mengingatkan jamaah untuk meluruskan dan merapatkan barisan. Setelah yakin semua barisan sudah rapih, sang pemimpin salat berjamaah mulai melantunkan takbir. "Allahu Akbar," Kalimat takbir mengawali salat. Dari sekian banyak kalimat-kalimat baik, takbir menjadi rukun yang wajib diucapkan pada awal sa…

Pasar Selasa

Kami memasuki sebuah gang. Sekitar dua puluhan sepeda motor terparkir di sisi kirinya, menyisakan ruang yang hanya cukup dilewati dua motor saja. Kami mencari celah yang cukup untuk memarkirkan motor kami. Di depan kami, seorang ibu dengan sebuah kantong plastik besar menghampiri sebuah motor matic kemudian duduk di atas joknya dan menekan tombol starter. Motor menyala. Seorang laki-laki memegang ujung jok sepeda motornya, menariknya keluar dari barisan parkiran. Sang ibu mengulurkan tangan, memberi laki-laki itu recehan dan secepat kilat berlalu. Kami kemudian memarkirkan motor di tempat yang ditinggalkan ibu tadi. Kami turun dari motor dan berjalan terus memasuki gang. Semakin ke dalam, gang semakin melebar dan dipenuhi sepeda motor bukan hanya di sisi kirinya tapi juga di sisi kanannya. Setelah beberapa langkah kami berjalan, gang itu membawa kami pada pemandangan yang menakjubkan: sebuah tanah lapang dan kesibukan sebuah pasar. Sudah beberapa pekan ini, sepulang kerja saya dan is…

Kerjakan Bagianmu

Ketika masih duduk di bangku SMA, saya punya banyak cita-cita. Kebanyakan cita-cita saya berhubungan dengan seni. Dari menjadi pelukis terkenal, penyair yang puisinya didengarkan semua orang, menjadi penulis yang novelnya dibaca banyak orang, sampai punya band besar yang albumnya meledak, terkenal, konser di mana-mana. Itu dulu. Setelah lulus SMA, ternyata saya kuliah di sekolah yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua cita-cita saya itu. Namun begitu, setelah lulus kuliah saya kemudian bekerja dan mendapatkan gaji setiap bulan. Dengan gaji itu saya bisa memenuhi kebutuhan. Saya bisa membeli makanan, minuman dan segala kebutuhan mendasar lain seperti membeli pakaian dan mengontrak rumah. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, saya mulai memanjat hierarki kebutuhan Maslow. Saya memerlukan hal-hal lain untuk memenuhi kebutuhan selain kebutuhan fisiologis. Saya menikah, bergabung dengan komunitas yang mempunyai minat yang sama, menonton konser band idola, bekerja sebaik mungkin d…

Minimalist

Akhir pekan kemarin saya lalui dengan cukup manis. Diawali dengan kunjungan ke perpustakaan daerah dan disudahi dengan pernyataan cinta istri saya melalui ubi jalar goreng dan beberapa gelas air jahe. Saya dan anak sulung saya sepakat untuk mengunjungi perpustakaan daerah di hari Sabtu. Kami hanya pergi berdua. Istri saya lebih suka membaca resep masakan di cookpad dan langsung mempraktekkannya di dapur sementara anak kedua saya cepat sekali merasa bosan. Berkali-kali kenikmatan kami membaca di toko buku terputus dengan berbagai macam alasan. Jadi, untuk menjamin keberlangsungan rencana kami membaca, kami hanya pergi berdua saja. Perpustakaan daerah hanya berjarak sekitar dua puluh menit perjalanan mengendarai sepeda motor dengan santai. Terletak di pusat kota, perpustakaan ini sering menjadi tujuan wisata anak-anak sekolah dari seluruh penjuru Riau. Mereka datang berbondong-bondong menggunakan bus. Sesampainya di sana kami langsung naik lift menuju bagian Fiksi karena anak saya ing…

Meraih dan Merasakan Berkat

Sejak bertugas di Pekanbaru, mengantar anak sekolah adalah hal yang sekarang rutin saya lakukan setiap hari. Hal yang istimewa. Kenapa begitu? Karena saya waktu tinggal di Depok dan ngantor di Jakarta, boro-boro nganterin anak ke sekolah tiap hari, yang ada sebelum anak bangun saya sudah berlari-lari mengejar kereta komuter atau mengarungi kemacetan tol Jagorawi. Solusinya, urusan antar-mengantar anak sekolah ini saya serahkan pada mobil antar jemput sekolah. Sekitar jam setengah tujuh pagi saya mengantar anak saya yang kelas 4 SD ke sekolahnya karena jam masuk sekolahnya adalah jam tujuh pagi. Perjalanan dari kontrakan ke sekolah sekitar sepuluh menit menggunakan honda (saya menggunakan huruf kecil karena di Pekanbaru semua sepeda motor baik yang merek Honda, Yamaha, Suzuki atau yang lainnya disebut honda). Dalam perjalanan singkat itu ada hal yang sangat saya sukai yaitu menemui kabut. Kabut ya, bukan kabut asap. Tidak turun setiap hari, namun jika kebetulan sedang turun kabut, sep…